JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – PT Agrinas Palma Nusantara dan PT Pertamina Power Indonesia menjajaki kerja sama pengembangan biofuel nasional untuk mendukung ketahanan energi serta hilirisasi sektor pertanian.

Pembahasan kerja sama mencakup pengembangan bioetanol berbahan baku singkong serta rencana mengaktifkan kembali fasilitas biodiesel PT Bayas Biofuels.

Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara Mohammad Abdul Ghani mengatakan sinergi antar-Badan Usaha Milik Negara diperlukan untuk membangun industri biofuel yang terintegrasi dari sektor hulu hingga hilir.

“Kolaborasi dengan PT Pertamina Power Indonesia diharapkan mampu mengoptimalkan potensi kedua perusahaan sehingga terbentuk ekosistem biofuel yang terintegrasi, berkelanjutan, dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian nasional,” katanya di Jakarta, Kamis, 30 Juli 2026.

Kerja sama itu dikaitkan dengan pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026 tentang Percepatan Swasembada Pangan Bidang Pertanian dalam Mewujudkan Ketahanan Nasional dan Kemandirian Bangsa.

Inpres tersebut mengamanatkan langkah terkoordinasi untuk meningkatkan produksi pangan dalam negeri dan mengembangkan sistem budi daya pertanian berkelanjutan.

Agrinas menawarkan pengembangan kawasan budi daya singkong di Kecamatan Kembang Janggut, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.

Kawasan tersebut memiliki potensi lahan sekitar 33 ribu hektare yang diproyeksikan mendukung kebutuhan bahan baku pabrik bioetanol berkapasitas hingga 300 kiloliter per hari.

Lokasi kawasan disebut berjarak sekitar 6,5 kilometer dari dermaga dan memiliki akses sungai yang dapat dilalui tongkang berkapasitas hingga 5.000 ton.

Kondisi tersebut dinilai dapat mendukung pengangkutan bahan baku maupun distribusi produk bioetanol.

Kontur lahan yang relatif datar juga memungkinkan penerapan mekanisasi dalam proses pengolahan lahan, penanaman, pemeliharaan, dan panen singkong.

Namun, rencana tersebut masih berada pada tahap awal dan belum memasuki proses pembangunan.

Kedua perusahaan akan menyusun pembagian peran, studi kelayakan, dan model bisnis sebagai dasar untuk menentukan kelanjutan proyek.

Abdul Ghani berharap tahapan kajian hingga pelaksanaan proyek dapat dipercepat agar memberikan nilai tambah terhadap komoditas pertanian sekaligus memperkuat pasokan energi terbarukan.

Direktur Utama Pertamina Power Indonesia John Anis mengatakan pihaknya siap menindaklanjuti peluang kerja sama pengembangan bioetanol maupun biodiesel.

“Kami melihat sinergi ini sebagai langkah strategis dalam membangun ekosistem biofuel nasional,” katanya.

Menurut John, studi kelayakan dan skema bisnis diperlukan untuk memastikan proyek memberikan manfaat bagi kedua perusahaan serta mendukung program strategis pemerintah.

Hasil kajian nantinya akan menjadi dasar untuk menilai aspek teknis, ekonomi, pasokan bahan baku, lingkungan, dan kelayakan investasi proyek tersebut.

ANTARA