KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kapuas melalui tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (Promkes RS) memberikan edukasi medis mengenai bahaya anemia. Kondisi kekurangan sel darah merah atau penurunan kadar hemoglobin ini kerap tidak disadari oleh penderitanya apabila muncul secara perlahan.

Tenaga kesehatan RSUD Kapuas, Dwi, menjelaskan definisi dasar serta mekanisme terjadinya anemia di dalam tubuh.

"Jadi, diluruskan dulu ya, anemia itu adalah kondisi ketika tubuh kekurangan sel darah merah yang sehat atau kadar hemoglobin di dalam darah lebih rendah dari normal. Hemoglobin adalah protein di dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Jika kadar hemoglobin rendah, pasokan oksigen ke organ-organ tubuh berkurang sehingga tubuh akan terasa lemas, cepat lelah, pucat, dan kadang disertai pusing atau sesak napas," ungkapnya, Kamis, 30 Juli 2026.

Ia memaparkan bahwa gejala umum yang sering dirasakan adalah 4L (lemah, letih, lesu, cepat lelah), pusing, mata berkunang-kunang, dan wajah pucat. Jika anemia berlangsung berat, kondisi tersebut bermanifestasi dalam bentuk sesak napas saat melakukan aktivitas ringan.

Mengenai penanganan dengan konsumsi obat penambah darah secara mandiri, Dwi menegaskan bahwa langkah tersebut tidak selalu tepat karena setiap penyebab anemia membutuhkan terapi yang berbeda.

"Apakah anemia itu bisa selesai dengan minum obat tambah darah atau misalnya merk sangobion, itu sebetulnya kurang tepat, jadi setiap anemia kan penyebabnya berbeda, maka terapi yang diberikan juga berbeda. Sebagai contoh, kalau misalnya pada anak-anak atau remaja yang gizi kurang, mungkin cocok saja. Tapi kalau misalnya pada pasien ambeyen, kalau pendarahannya tidak dihentikan, maka diberi tablet penambah darah, belum tentu baik, sehingga harus kontrol dulu ke dokter. Begitu juga pada yang menstruasi banyak, maka tablet penambah darah belum tentu bisa memperbaiki, harus kontrol dulu ke dokter kandungan, diatur dulu siklus datang bulan ditambah juga dengan tablet penambah darah. Jadi, setelah periksa, misalnya didapatkan hasil darah lengkap yang rendah, maka dapat konsultasi ke dokter," ujarnya.

Secara medis, tiga penyebab utama anemia meliputi defisiensi zat besi akibat gizi kurang, pendarahan berlebih seperti pada pasien ambeien atau menstruasi berat, serta penyakit sistemik seperti gagal ginjal, thalasemia, atau kelainan darah.

Dari sisi indikator laboratorium, nilai normal kadar hemoglobin pada laki-laki berada di rentang 13,5 sampai 17,5 g/dL, perempuan 12 sampai 16 g/dL, dan ibu hamil di atas 11 g/dL. Seseorang dinyatakan mengalami anemia apabila kadar hemoglobin berada di bawah batas normal tersebut.

Untuk memastikan efektivitas terapi, evaluasi ulang melalui laboratorium diperlukan dalam kurun waktu 1 hingga 3 bulan setelah pengobatan. Jika tidak terdapat perbaikan, dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut untuk mencari penyebab lain yang belum terkoreksi.

Dwi mengimbau masyarakat, khususnya kelompok rentan, untuk melakukan pengetesan darah secara berkala guna mendeteksi kondisi anemia sejak dini.

"Jadi kondisi anemia itu suatu kondisi kurang sel darah merah atau hemoglobin. Gejalanya bisa berat seperti 4L cepat lelah letih lesu dan lemas, atau bisa juga gejala ringan-ringan sehingga sering diabaikan. Untuk tahu, maka sebaiknya periksakan ke laboratorium terdekat, terutama pada kelompok anak-anak, remaja perempuan, ibu hamil, lansia, orang yang punya keluhan haid yang banyak atau berkepanjangan maupun orang-orang yang punya ambeyen. Makin dini dideteksi anemia, maka perbaikannya akan jauh lebih cepat dan ringan. Oleh karena itu, minimal 1 tahun atau 6 bulan sekali cek darah rutin atau darah lengkap," pungkasnya. (SABRIANOOR)