JAKARTA –

BORNEONEWS, Batang – Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat atau BP Tapera menyebut rumah subsidi melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) semakin diminati generasi milenial dan Gen Z.

Komisioner BP Tapera, Heru Pudyo Nugroho mengatakan, dari total 278.868 unit rumah subsidi yang disalurkan sepanjang 2025, sekitar 62 persen diakses masyarakat berusia 19 hingga 30 tahun.

“Realisasi penyaluran dana FLPP rumah subsidi pada 2025 mencapai 278.868 unit. Kurang lebih 62 persennya diakses Gen Z dan milenial berusia 19 sampai 30 tahun,” kata Heru di Batang, Jawa Tengah, Kamis, 30 Juli 2026.

Menurut dia, tingginya minat tersebut menunjukkan kesadaran generasi muda untuk memiliki rumah sebagai investasi jangka panjang masih cukup kuat.

Heru mengatakan, kepemilikan rumah tidak hanya menjadi pemenuhan kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga bagian dari persiapan finansial untuk masa depan.

Sementara itu, realisasi penyaluran FLPP hingga Kamis, 30 Juli 2026, telah mencapai sekitar 118.700 unit. BP Tapera optimistis penyaluran rumah subsidi hingga akhir 2026 dapat melampaui capaian tahun sebelumnya.

Ketua Dewan Pengurus Daerah Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jawa Tengah, Sugiyatno mengatakan, mayoritas pembeli rumah subsidi berasal dari kelompok usia produktif 22 hingga 35 tahun.

Sekitar 80 hingga 85 persen konsumen rumah subsidi di Jawa Tengah disebut berasal dari kalangan karyawan pabrik.

“Jawa Tengah kini menjadi salah satu pusat industri. Kebutuhan rumah otomatis terus meningkat sehingga pembangunan perumahan mengikuti perkembangan kawasan industri,” ujarnya.

Direktur Utama PT DwiWahana Deltamegah, Sri Widodo juga menyampaikan bahwa sebagian besar pembeli rumah subsidi di perusahaannya berusia 20 hingga 35 tahun.

Pembeli masih didominasi generasi milenial yang telah berkeluarga. Namun, minat dari kalangan Gen Z mulai menunjukkan peningkatan.

“Bahkan ada pembeli berusia 20 tahun yang masih lajang sudah membeli rumah subsidi. Hal ini menunjukkan kesadaran Gen Z terhadap pentingnya memiliki rumah mulai meningkat,” katanya.

Mayoritas konsumen berasal dari kalangan buruh pabrik, karyawan swasta, serta pekerja sektor informal yang beraktivitas di sekitar kawasan industri Batang.

Sri Widodo menilai rumah subsidi tetap menjadi pilihan utama masyarakat di tengah perlambatan sektor properti dan tingginya beban pembiayaan rumah nonsubsidi.

Menurut dia, sebagian masyarakat memilih menunda membeli rumah komersial karena suku bunga kredit pemilikan rumah atau KPR yang bersifat mengambang.

Sebaliknya, rumah subsidi dinilai lebih menarik karena menawarkan bunga tetap hingga masa kredit berakhir, cicilan lebih ringan, serta uang muka yang relatif rendah.

ANTARA