SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menyesuaikan jadwal musim tanam ketiga tahun 2026 menyusul bergesernya puncak musim kemarau yang menyebabkan sejumlah lahan pertanian mulai mengalami kekeringan.

"Biasanya daerah Lampuyang bisa tiga kali tanam dalam setahun, tetapi sekarang memasuki periode tanam ketiga kondisi lahannya sudah mulai kering, sehingga yang bisa kami lakukan adalah menggeser waktu tanam," kata Kepala DPKP Kotim Yephi Hartady Periyanto, Jumat, 31 Juli 2026.

Ia menjelaskan, secara normal petani memulai musim tanam ketiga setelah panen pada Juli. Namun tahun ini jadwal tersebut terpaksa ditunda karena ketersediaan air belum mencukupi.

Di sisi lain, pemerintah daerah juga masih menunggu realisasi sejumlah bantuan dari pemerintah pusat yang diharapkan dapat membantu penyediaan air bagi lahan pertanian.

Menurut Yephi, usulan bantuan irigasi pompa dan irigasi perpipaan telah diajukan, bahkan dari lima yang disampaikan, empat di antaranya telah disetujui.

"Bantuan irigasi pompa dan irigasi pipa sudah ada yang disetujui. Dari lima usulan, empat mendapatkan bantuan. Pelaksanaannya nanti menggunakan sistem swakelola oleh masyarakat," ujarnya.

Ia berharap bantuan tersebut dapat segera direalisasikan sehingga petani tidak perlu menunggu terlalu lama untuk kembali mengolah sawah mereka.

Apabila bantuan belum tersedia, persiapan musim tanam ketiga diperkirakan baru dapat dimulai pada akhir September setelah kondisi cuaca dan ketersediaan air lebih mendukung.

"Kalau tanpa intervensi bantuan, kemungkinan persiapan musim tanam ketiga baru bisa dimulai sekitar akhir September. Tetapi kalau irigasi pompa dan perpipaan sudah berjalan, kami bisa lebih cepat karena akan ada gerakan tanam nasional," jelasnya.

Yephi menegaskan, penundaan musim tanam merupakan langkah antisipasi agar petani tidak mengalami gagal tanam maupun gagal panen akibat kekurangan air.

Menurutnya, memaksakan penanaman pada kondisi lahan yang kering justru berisiko menimbulkan kerugian yang lebih besar.

"Yang kami khawatirkan kalau tanam dipaksakan justru bisa gagal. Kami tidak ingin sampai terjadi gagal tanam, apalagi gagal panen," tegasnya.

Meski terjadi penundaan musim tanam, Yephi memastikan kondisi ketahanan pangan di Kotim masih dalam keadaan aman.

Berdasarkan data Bulog, cadangan pangan yang tersedia diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat selama sekitar tiga bulan ke depan sehingga belum memberikan dampak signifikan terhadap ketersediaan beras.

"Dampaknya lebih kepada cadangan pangan. Namun berdasarkan data Bulog, stok pangan kita masih aman untuk sekitar tiga bulan sehingga belum berpengaruh signifikan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/j)