SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) Langkap menyoroti tingginya kasus diare yang telah mencapai ribuan kasus dan menyebabkan empat bayi meninggal dunia sepanjang tahun 2026. Ia meminta pemerintah memperkuat upaya pencegahan, terutama di wilayah yang memiliki angka kasus dan kematian tertinggi.

"Kasus diare di Kotim sampai hari ini sudah ribuan. Dari ribuan kasus itu sudah ada korban jiwa, terutama bayi yang sangat rentan jika terkena diare," kata Langkap, Jumat, 31 Juli 2026.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kotim hingga pekan ke-28 tahun 2026, tercatat sebanyak 3.852 kasus diare. Tiga kecamatan dengan jumlah kasus tertinggi yakni Mentawa Baru Ketapang, Baamang, dan Cempaga.

Sementara itu, empat bayi meninggal akibat diare, masing-masing berusia 7 hari asal Kuala Kuayan, Kecamatan Mentaya Hulu, serta bayi berusia 3 bulan, 6 bulan, dan 7 bulan.

Langkap mengimbau masyarakat mengutamakan penggunaan air bersih, terutama untuk kebutuhan minum dan menyiapkan makanan bagi bayi maupun balita.

"Air minum harus dimasak sampai mendidih. Kebersihan tangan ibu yang menyiapkan makanan juga harus dijaga karena kontaminasi bukan hanya berasal dari air, tetapi juga dari proses penyajian makanan," ujarnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menunda membawa penderita diare ke fasilitas kesehatan apabila mengalami buang air besar berulang dengan kondisi feses cair.

"Kalau sudah diare dua atau tiga kali dengan kondisi cair, segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan cairan. Jangan sampai terlambat karena dehidrasi bisa menyebabkan kematian, terutama pada balita," tegasnya.

Selain itu, Politisi Fraksi Gerindra itu meminta petugas kesehatan meningkatkan pemantauan di daerah yang telah mencatat kasus kematian akibat diare, seperti Teluk Sampit, Pulau Hanaut, dan Mentaya Hulu.

"Secara teori diare tidak seharusnya menyebabkan kematian jika penanganannya cepat, tepat, dan akurat. Karena itu petugas kesehatan harus lebih aktif memantau wilayah-wilayah yang rawan," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)