BORNEONEWS, Tamiang Layang – Yonif TP 924/Uria Mapas mengerahkan 20 personelnya untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi di Desa Sumur, Kabupaten Barito Timur, Jumat, 31 Juli 2026.
Personel Yonif TP 924/Uria Mapas bergabung dengan unsur TNI, Polri, BPBD Damkar, relawan serta masyarakat setempat untuk mencegah api meluas ke area lain. Berdasarkan perkiraan di lapangan, luas lahan yang terbakar mencapai sekitar 5,6 hektare.
Bintara Seksi Intelijen (Basiintel) Yonif TP 924/Uria Mapas, Serda Krisman, mengatakan saat personel tiba di lokasi, kondisi api sudah cukup besar dan terus menjalar sehingga dibutuhkan penanganan cepat melalui kerja sama seluruh unsur yang terlibat.
"Saat kami tiba di lokasi, api sudah mulai membesar dan meluas. Karena itu seluruh unsur yang ada langsung bekerja sama melakukan pemadaman agar api tidak terus menjalar ke area lain," ujarnya.
Menurut Krisman, proses pemadaman menghadapi kendala berupa terbatasnya sumber air yang berada cukup jauh dari lokasi kebakaran. Kondisi tersebut mengharuskan mobil pemadam menempuh jarak tertentu untuk melakukan pengisian ulang air.
"Tantangan utama di lapangan adalah sumber air yang cukup jauh untuk mengisi mobil pemadam. Namun berkat koordinasi dan kerja sama semua pihak, proses pemadaman dapat berjalan dengan baik hingga api berhasil dikendalikan sekitar tiga jam kemudian," katanya.
Setelah api berhasil dipadamkan, tim gabungan tidak langsung meninggalkan lokasi. Mereka melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada lagi titik api maupun bara yang masih menyala, sekaligus membuat jalur pemutus api sebagai langkah antisipasi agar kebakaran tidak kembali terjadi.
Berdasarkan informasi sementara di lapangan, kebakaran diduga dipicu aktivitas pembakaran lahan oleh seorang warga yang akan membuka lahan perkebunan. Namun, penyebab pasti kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang.
Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Yonif TP 924/Uria Mapas menegaskan komitmennya untuk terus hadir membantu masyarakat dalam penanganan berbagai bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan yang berpotensi meningkat selama musim kemarau. (AGUSTINUS BOLE MALO/H)









