PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Keterbatasan jumlah dokter spesialis menjadi salah satu tantangan dalam meningkatkan kualitas layanan bedah saraf di daerah, termasuk Kalimantan. Penguatan sumber daya manusia dinilai perlu berjalan beriringan dengan pengembangan fasilitas dan teknologi kesehatan.

Guru Besar Ilmu Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan (FK UPH), Prof. Dr. dr. Julius July, Sp.BS(K), M.Kes, IFAANS, mengatakan jumlah dokter spesialis bedah saraf saat ini masih belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan pelayanan masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian bersama, terlebih pengembangan layanan kesehatan di daerah tidak cukup hanya dengan menyediakan fasilitas dan peralatan medis.

Ketersediaan tenaga ahli yang mampu mengoperasikan peralatan sekaligus memberikan pelayanan secara berkelanjutan juga menjadi faktor penting.

"Jumlah dokternya itu belum cukup. Oleh sebab itu, yang sedang sekolah sekarang cukup banyak. Saya tadi mendapat kabar dari Dokter Ahmad bahwa ada enam orang yang sedang pendidikan. Kita berharap ke depan lebih banyak lagi," ujar Prof Julius saat Press Conference usai kegiatan Siloam Clinical Symposium 2026 di Palangka Raya pada Sabtu, 1 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, idealnya pengembangan layanan bedah saraf di rumah sakit dilakukan melalui sistem tim dengan keahlian yang lebih spesifik. Sebab, bidang bedah saraf memiliki cakupan yang luas, mulai dari penanganan otak, tulang belakang, tumor, hingga layanan untuk pasien dewasa, anak-anak dan kasus fungsional.

"Kalau satu orang dituntut untuk mengembangkan semuanya, itu berlebihan. Jadi tidak bisa melaju karena tidak sendiri," katanya.

Prof Julius menilai kolaborasi antarspesialis menjadi kebutuhan penting dalam pengembangan layanan bedah saraf di daerah. Menurutnya, pelayanan yang optimal membutuhkan tim yang dapat saling mendukung sesuai dengan bidang keahlian masing-masing.

Ia mencontohkan, dalam satu departemen di tempatnya bekerja terdapat sejumlah dokter yang berkolaborasi untuk menangani berbagai kasus.

Pola tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pengembangan layanan kesehatan di daerah sehingga masyarakat tidak harus selalu dirujuk ke kota-kota besar untuk mendapatkan pelayanan spesialis.

"Kita tahu ini pekerjaan bersama. Bukan hanya mengandalkan saya. Pemerintah juga perlu terlibat. Intinya adalah melayani masyarakat dan membangun supaya di daerah itu ada fasilitasnya. Karena tidak semua orang bisa datang ke Jakarta," jelasnya.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas layanan tulang belakang. dr. Perwira Bintang Hari, Sp.OT (K) Spine, menyampaikan bahwa transisi dari metode open surgery menuju uniportal endoscopic spine surgery menjadi salah satu kemajuan penting dalam penanganan gangguan tulang belakang.

Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan tindakan dilakukan melalui sayatan yang lebih minimal dengan trauma jaringan yang lebih rendah. Teknologi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi pasien selama tetap memperhatikan aspek keamanan dan efektivitas tindakan.

"Transisi dari open surgery menuju uniportal endoscopic spine surgery menjadi salah satu kemajuan penting dalam penanganan gangguan tulang belakang, karena memungkinkan tindakan dilakukan melalui sayatan yang lebih minimal dengan trauma jaringan yang lebih rendah," ungkapnya.

Dalam kegiatan Siloam Clinical Symposium 2026 bertajuk Exploring New Frontiers in Modern Healthcare: Bridging Expertise Through Collaboration ini ia menambahkan, pendekatan bedah minimal invasif tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi nyeri pascaoperasi dan mempercepat proses pemulihan pasien. Selain itu, penerapan teknologi tersebut juga diharapkan dapat mendukung pencapaian hasil klinis yang optimal.

Pengembangan layanan bedah saraf dan tulang belakang di daerah, lanjut Prof Julius, membutuhkan dukungan berbagai pihak secara berkelanjutan.

Pemerintah, rumah sakit, institusi pendidikan dan tenaga medis perlu berkolaborasi untuk menjawab tantangan keterbatasan sumber daya manusia sekaligus memastikan pemanfaatan teknologi kesehatan dapat berjalan optimal.

"Tantangan ini tidak selamanya harus berdiam di situ. Ini menjadi PR bagi kami untuk mencarikan solusi. Walaupun kita tahu pasti kita juga perlu biaya," pungkasnya.(TESTI PRISCILLA)