PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya – Wakil Gubernur Kalimantan Tengah, Edy Pratowo, mendorong kalangan akademisi untuk menciptakan inovasi dan teknologi yang dapat membantu mempercepat penanggulangan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla.

Dorongan tersebut juga disampaikan kepada para lulusan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya saat Edy menghadiri Yudisium dan Wisuda Program Pascasarjana XIII serta Program Sarjana XXXVI UMPR di Palangka Raya, Sabtu, 1 Agustus 2026.

Menurutnya, ilmu pengetahuan yang dikembangkan di lingkungan perguruan tinggi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi masyarakat, termasuk ancaman karhutla yang kerap terjadi saat musim kemarau.

“Ilmu pengetahuan jangan hanya berhenti di dunia akademik, tetapi harus mampu melahirkan ide, gagasan, dan temuan yang dapat memberikan solusi bagi persoalan masyarakat, termasuk dalam penanganan karhutla,” katanya.

Edy berharap penelitian serta pengembangan teknologi dari perguruan tinggi dapat dimanfaatkan untuk mendukung sistem deteksi dini, pencegahan, hingga proses pemadaman kebakaran.

Inovasi tersebut dinilai penting agar kebakaran dapat diketahui dan ditangani lebih cepat sehingga dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, lingkungan, serta aktivitas ekonomi bisa ditekan.

Selain mendorong peran akademisi, Edy mengajak masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran selama musim kemarau yang turut dipengaruhi fenomena El Nino.

Ia menyoroti kebakaran lahan yang terjadi di wilayah Kabupaten Pulang Pisau. Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama Polda Kalteng terus memantau perkembangan karhutla di kawasan tersebut.

Edy mengatakan dirinya bersama Kapolda Kalimantan Tengah telah meninjau langsung lokasi kebakaran di kawasan Tanjung Taruna dan Tumbang Nusa.

“Beberapa waktu lalu saat kami bersama Kapolda memantau kebakaran di wilayah Tumbang Nusa, lahan yang terbakar sekitar 11 hektare. Namun, saat ini meluas menjadi sekitar 50 hektare yang tersebar di beberapa titik,” ujarnya.

Ia khawatir kebakaran terus meluas hingga mendekati kawasan jalan layang. Kondisi tersebut dapat mengganggu mobilitas masyarakat sekaligus menyulitkan proses pemadaman.

Edy juga mengingatkan kembali peristiwa karhutla besar yang terjadi di kawasan gambut Tumbang Nusa pada 2015. Saat itu, api membakar lapisan gambut hingga kedalaman sekitar empat meter.

Kondisi tersebut membuat pemadaman menjadi sangat sulit karena bara api masih dapat bertahan di bawah permukaan meskipun api di bagian atas terlihat telah padam.

“Api di permukaan memang terlihat padam, tetapi bara di bawah tanah masih menyala. Karena itu, diperlukan pasokan air dalam jumlah besar agar api benar-benar padam hingga ke lapisan gambut,” katanya.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana dan Pemadam Kebakaran Provinsi Kalimantan Tengah, luas lahan terdampak karhutla hingga akhir Juli 2026 mencapai sekitar 3.069,52 hektare.

Data tersebut diperoleh melalui hasil verifikasi citra satelit dan pemeriksaan langsung di lapangan. Pada periode yang sama, tercatat sebanyak 2.844 titik panas serta 563 kejadian kebakaran di berbagai kabupaten dan kota.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah bersama pemerintah kabupaten dan kota terus memperkuat langkah penanganan dengan melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, Badan Nasional Penanggulangan Bencana, serta unsur terkait lainnya.

Upaya yang dilakukan meliputi patroli terpadu, pemadaman melalui jalur darat dan udara, pemantauan kawasan rawan, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.