JAKARTA –

BORNEONEWS, Moskow – Pemerintah Iran mengecam Amerika Serikat yang dinilai menggunakan isu keamanan pelayaran di Selat Hormuz sebagai alasan untuk membenarkan tekanan dan tindakan militer terhadap Teheran.

Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan negaranya akan menggunakan seluruh langkah yang diperlukan untuk melindungi hak, kepentingan, dan keamanan nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat serta munculnya laporan mengenai kemungkinan serangan baru terhadap infrastruktur energi Iran.

Press TV melaporkan, Iran menilai Washington telah menjadikan situasi pelayaran di Selat Hormuz sebagai dalih untuk meningkatkan tekanan politik dan militer.

Teheran juga menegaskan tetap berkomitmen menjaga hubungan baik dengan negara-negara tetangga di kawasan Timur Tengah meskipun ketegangan dengan Amerika Serikat terus meningkat.

Pernyataan Iran muncul sehari setelah CBS News melaporkan Amerika Serikat dan Israel disebut tengah mempersiapkan serangan besar terhadap sejumlah fasilitas energi Iran.

Namun, hingga laporan ini disampaikan, belum terdapat keterangan resmi yang memastikan pelaksanaan maupun waktu operasi militer tersebut.

Ketegangan antara kedua negara kembali meningkat setelah pasukan Amerika Serikat melancarkan sejumlah serangan terhadap Iran sejak 8 Juli 2026.

Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas tindakan Iran terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz.

Iran kemudian membalas dengan menyerang sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah.

Sebelumnya, Teheran dan Washington menandatangani nota kesepahaman pada 18 Juni 2026 yang ditujukan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung sejak 28 Februari 2026.

Namun, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian menyatakan gencatan senjata antara Washington dan Teheran tidak lagi berlaku.

Iran menegaskan setiap tindakan yang dianggap mengancam kedaulatan dan keamanan nasionalnya akan mendapat respons sesuai kepentingan negara tersebut.

Sumber: Sputnik/Press TV/ANTARA