SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) tidak hanya memicu pencemaran udara, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar yang menghuni kawasan tersebut.

Dalam beberapa hari terakhir, sedikitnya dua ekor ular piton ditemukan mati akibat kebakaran di lokasi berbeda. Peristiwa itu menunjukkan bahwa karhutla turut mengganggu keseimbangan ekosistem di wilayah Kotim.

Temuan pertama terjadi pada Kamis, 30 Juli 2026, saat tim gabungan memadamkan kebakaran di Jalan Amin Klaru, Kelurahan Mentawa Baru Hilir, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang. Seekor ular piton dewasa ditemukan dalam kondisi hangus terbakar.

Selang beberapa hari kemudian, tepatnya Minggu, 2 Agustus 2026, seekor ular piton kembali ditemukan mati di tengah lahan yang terbakar di Jalan Kencana, Kelurahan Baamang Hulu, Kecamatan Baamang.

Komandan BKSDA Pos Sampit Muriansyah, mengatakan kematian satwa tersebut menjadi salah satu dampak serius karhutla terhadap kelestarian ekosistem.

Menurutnya, ular memiliki fungsi penting sebagai predator alami yang menjaga keseimbangan populasi tikus dan hewan pengerat lainnya. Jika jumlah ular terus berkurang akibat kebakaran maupun perburuan, populasi tikus berpotensi meningkat dan merugikan sektor pertanian.

"Kalau ular banyak mati karena terbakar atau perburuan, dampaknya populasi tikus akan meningkat. Tikus menjadi tidak terkendali dan menyerang tanaman maupun sumber pakan lainnya. Pada akhirnya manusia juga yang akan merasakan kerugiannya," kata Muriansyah, Minggu, 2 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, ular yang ditemukan mati diduga merupakan jenis sanca kembang. Satwa tersebut diperkirakan tidak sempat menyelamatkan diri saat kobaran api melahap habitatnya.

Biasanya, kata dia, sanca bersembunyi di dalam lubang tanah, semak belukar, atau tumpukan kayu. Ketika kebakaran terjadi, ular akan keluar untuk menghindari api. Namun dalam kondisi api yang cepat membesar, satwa tersebut sering kali tidak mampu meloloskan diri.

"Biasanya ular berlindung di lubang tanah. Saat api datang mereka keluar untuk menyelamatkan diri, tetapi tidak sempat sehingga akhirnya mati terbakar," imbuhnya.

Muriansyah menambahkan, kejadian serupa bukan pertama kali terjadi di Kotim. Pada musim kemarau tahun-tahun sebelumnya, berbagai jenis ular seperti sanca batik, sanca gendang, ular kobra hingga king kobra juga kerap ditemukan mati di area bekas kebakaran.

"Seperti tahun-tahun sebelumnya, satwa liar jenis ular seperti sanca batik, sanca gendang, cobra hingga king cobra juga sering ditemukan mati di areal bekas kebakaran," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/y)