BORNEONEWS, Sampit – Warga Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), mengeluhkan sulitnya mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) dalam beberapa hari terakhir. Kelangkaan Pertamax dan Pertalite di sejumlah SPBU membuat masyarakat harus berkeliling dari satu lokasi ke lokasi lain, bahkan mengantre berjam-jam tanpa kepastian bisa mengisi bahan bakar.
Soraya, salah seorang warga Sampit, mengaku gagal mengisi Pertamax setelah mendatangi beberapa SPBU pada Minggu, 2 Agustus 2026.
Awalnya, ia mendatangi SPBU di Jalan MT Haryono. Kondisi di lokasi tampak lengang tanpa antrean kendaraan, padahal SPBU tersebut biasanya ramai.
Namun setelah masuk area SPBU, ia mendapati papan pengumuman yang menyatakan BBM sedang dalam proses pengisian sehingga pelayanan belum dapat dilakukan.
"Saya kira karena sepi berarti Pertamax masih ada. Ternyata setelah masuk ada pemberitahuan kalau BBM sedang dalam proses pengisian, jadi tidak bisa mengisi," ujar Soraya.
Ia kemudian menuju SPBU di Jalan Pelita. Di lokasi itu antrean mobil dan sepeda motor mengular untuk mendapatkan Pertalite, sedangkan Pertamax yang ia cari sudah habis.
Perjalanan dilanjutkan ke SPBU di Jalan Hasan Mansyur. Suasana memang lebih sepi dengan hanya beberapa sepeda motor mengantre Pertamax Turbo. Setelah bertanya kepada petugas, Soraya kembali mendapat kabar bahwa stok Pertamax telah habis lebih dulu, disusul Pertalite yang juga kosong.
"Akhirnya saya pulang tanpa isi bensin. Mau beli eceran juga harganya mahal, terakhir saya beli Pertamax eceran Rp18 ribu per liter, belum lagi kualitasnya belum tentu terjamin," ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Yunus yang merupakan seorang pengemudi ojek online. Ia mengatakan harus berkeliling ke empat SPBU pada Sabtu, 1 Agustus 2026, untuk mencari Pertalite, namun seluruhnya kehabisan stok.
Ia mendatangi SPBU di Jalan Pelita dan Jalan MT Haryono, tetapi keduanya memasang pemberitahuan bahwa Pertalite sedang kosong.
Di SPBU Jalan Jenderal Sudirman, Yunus mengaku mengantre lebih dari satu jam. Namun hingga gilirannya tiba, baru diketahui Pertalite telah habis. Menurutnya, tidak ada petugas maupun papan informasi yang memberi tahu kondisi tersebut sehingga banyak pengendara terlanjur menghabiskan waktu dalam antrean.
"Saya sudah antre lebih dari satu jam. Begitu giliran masuk, ternyata Pertalite sudah habis. Sayang sekali waktu terbuang karena tidak ada pemberitahuan dari awal," ujarnya.
Ia kemudian mencoba menuju SPBU di Jalan Hasan Mansyur. Melihat antrean kendaraan yang sangat panjang, ia memilih mengurungkan niat karena khawatir kembali kehabisan BBM sebelum mendapat giliran.
Keesokan paginya, Yunus akhirnya berhasil memperoleh Pertalite di SPBU Jalan Tjilik Riwut Kilometer 8 saat dalam perjalanan menuju Kecamatan Kota Besi. Meski harus kembali mengantre, ia bersyukur masih bisa mendapatkan bahan bakar. "Yang penting akhirnya dapat. Antre memang panjang, tapi setidaknya tidak pulang dengan tangki kosong," ucapnya.
Yunus berharap persoalan antrean dan kelangkaan BBM segera mendapat perhatian. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berulang kali terjadi seolah masyarakat dipaksa berdamai dengan antrean panjang yang membuat rugi waktu. Hal itu tidak boleh dianggap sebagai hal yang biasa dan harus ada solusi dari pemerintah maupun Pertamina.
"Untuk SPBU kalau memang BBM habis, sebaiknya ada pemberitahuan yang jelas supaya masyarakat tidak antre sia-sia. Pemerintah juga perlu mencari solusi, apakah dengan menambah kuota atau memperbaiki distribusi BBM agar antrean panjang tidak terus berulang," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/r)









