BORNEONEWS, Sampit — Kualitas udara di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mulai menunjukkan tren penurunan signifikan seiring masuknya puncak musim kemarau dan maraknya kasus Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Masyarakat, khususnya kelompok rentan, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap dampak buruk polusi udara dan krisis air bersih.
Meski kasatmata belum terlihat kabut asap pekat yang mengapung di udara, data The Weather Channel per Senin (3/8/2026) mencatat Air Quality Index (AQI) di Kotim telah menyentuh angka 124, atau masuk dalam kategori tidak sehat bagi kelompok sensitif. Polutan utama yang terdeteksi adalah partikel berbahaya PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 33,88 \mu g/m³.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kotim, Marjuki, menegaskan bahwa penurunan kualitas lingkungan ini berbanding lurus dengan panjangnya durasi kemarau tahun ini yang diperkirakan bertahan hingga beberapa bulan ke depan.
"Musim kemarau diprediksi berlangsung sampai September bahkan mungkin Oktober. Otomatis kondisi ini akan memengaruhi kualitas udara maupun kualitas air. Setiap hari bahkan setiap jam kami melakukan pemantauan. Hari ini rata-rata indeks kita mencapai 142, memang masih kategori sedang tetapi sudah mengarah ke sensitif," ujar Marjuki, Senin, 3 Agustus 2026.
Melihat penurunan kualitas udara tersebut, DLH Kotim meminta masyarakat terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit pernapasan dan jantung untuk menekan aktivitas di luar ruangan.
"Oleh sebab itu kami mengimbau masyarakat, terutama yang beraktivitas di luar rumah, agar menggunakan masker. Kalau memang tidak ada keperluan penting, sebaiknya aktivitas di luar dikurangi," tegasnya.
Selain ancaman polusi udara, Marjuki juga menyoroti ketersediaan air bersih yang makin menipis dan berisiko tercemar selama kemarau. Ia mengingatkan warga agar tidak sembarangan mengonsumsi air dari sumur bor tanpa dipastikan kelayakannya terlebih dahulu.
Pada kesempatan tersebut, ia menegaskan bahwa maraknya aktivitas pembakaran lahan menjadi faktor determinan utama yang memperparah kualitas hidup warga Kotim saat ini. Pihaknya mengimbau seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
"Dampak kebakaran lahan sudah sangat jelas terhadap kualitas udara maupun kualitas air. Kami berharap semua pihak benar-benar menyadari kondisi saat ini. Jangan sampai ada lagi pembakaran lahan karena itu akan memperburuk kualitas udara yang kita hirup bersama," pungkasnya. (DEVIANA/j)









