BORNEONEWS, Jakarta – Badan Pusat Statistik mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar 3,58 miliar dolar Amerika Serikat sepanjang Januari hingga Juni 2026.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, surplus perdagangan selama semester pertama 2026 terutama ditopang komoditas nonminyak dan gas.
“Sepanjang Januari hingga Juni 2026, neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar 3,58 miliar dolar AS,” kata Ateng di Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.
BPS mencatat neraca perdagangan komoditas nonmigas membukukan surplus sebesar 19,35 miliar dolar AS.
Namun, capaian tersebut tertahan oleh neraca perdagangan sektor migas yang masih mengalami defisit sebesar 15,77 miliar dolar AS.
Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia selama Januari hingga Juni 2026 mencapai 140,81 miliar dolar AS.
Nilai tersebut meningkat 4,13 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sektor industri pengolahan menjadi penyumbang utama pertumbuhan ekspor dengan peningkatan sebesar 6,18 persen secara tahunan.
Sementara itu, nilai impor Indonesia selama semester pertama 2026 diperkirakan mencapai sekitar 137,23 miliar dolar AS.
Nilai impor tersebut disebut meningkat 18,69 persen dibandingkan periode Januari hingga Juni 2025.
Khusus pada Juni 2026, neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar 450 juta dolar AS.
Pada periode tersebut, nilai ekspor tercatat sebesar 25,46 miliar dolar AS. Sementara nilai impor mencapai 25,91 miliar dolar AS.
Defisit pada Juni terjadi karena nilai impor lebih tinggi dibandingkan ekspor dengan selisih sekitar 450 juta dolar AS.
ANTARA









