JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Badan Pusat Statistik mencatat kenaikan harga pangan, transportasi, dan emas perhiasan menjadi pendorong utama inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2026.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono mengatakan, tekanan inflasi terutama berasal dari tiga kelompok pengeluaran, yakni makanan, minuman dan tembakau, transportasi, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya.

“Berdasarkan kelompok pengeluaran, inflasi didorong oleh tiga kelompok,” kata Ateng di Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan, yakni 0,87 persen.

Harga pada kelompok tersebut meningkat 2,97 persen dibandingkan Juli 2025.

Kenaikan terutama dipengaruhi harga ikan segar, minyak goreng, beras, sigaret kretek mesin, daging ayam ras, cabai merah, daging sapi, dan sigaret kretek tangan.

Kelompok transportasi mencatat inflasi sebesar 5,12 persen secara tahunan dengan andil 0,62 persen terhadap inflasi umum.

Peningkatan harga pada kelompok transportasi terutama disebabkan bensin, tarif angkutan udara, mobil, pelumas atau oli mesin, serta sepeda motor.

Sementara itu, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami inflasi sebesar 9,04 persen dengan andil 0,61 persen.

Emas perhiasan menjadi komoditas yang memberikan pengaruh terbesar terhadap kenaikan harga pada kelompok tersebut.

Berdasarkan komponennya, inflasi inti tercatat sebesar 2,76 persen secara tahunan dan memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 1,76 persen.

Komoditas yang dominan mendorong inflasi inti antara lain emas perhiasan, minyak goreng, nasi dengan lauk, telepon seluler, serta biaya pendidikan akademi dan perguruan tinggi.

Komponen harga yang diatur pemerintah mengalami inflasi sebesar 3,58 persen dengan andil 0,70 persen.

Tekanan pada komponen tersebut terutama berasal dari bensin, tarif angkutan udara, sigaret kretek mesin, dan bahan bakar rumah tangga.

Adapun komponen harga bergejolak mencatat inflasi tahunan sebesar 2,52 persen dan memberikan andil 0,42 persen.

Kenaikan harga pada komponen itu terutama dipengaruhi beras, daging ayam ras, cabai merah, dan daging sapi.

Secara wilayah, seluruh provinsi di Indonesia mengalami inflasi tahunan pada Juli 2026.

Papua Barat mencatat inflasi tertinggi sebesar 5,47 persen, sedangkan inflasi terendah terjadi di Papua Selatan sebesar 1,46 persen.

ANTARA