BORNEONEWS, Sampit – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) kian mengkhawatirkan seiring meningkatnya intensitas musim kemarau. Dari total 17 kecamatan yang ada di Kotim, dua wilayah terdekat dari pusat kota Sampit yakni Kecamatan Baamang dan Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tercatat sebagai daerah dengan luasan lahan terbakar paling fatal.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam K. Anwar, membenarkan kerawanan tinggi di dua wilayah prioritas penanganan tersebut.
"Kami terus mengerahkan personel lapangan guna melokalisasi dan memadamkan titik api agar tidak melebar luas ke lahan lainnya, " katanya, Senin, 3 Agustus 2026.
Berdasarkan data penanganan musibah karhutla setempat, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang mencatatkan frekuensi tertinggi dengan 62 kejadian, membumihanguskan luas lahan hingga 79,39 hektare.
Sementara itu, Kecamatan Baamang mengekor di urutan kedua dengan penanganan sebanyak 56 kejadian dan luas lahan terbakar mencapai 64,04 hektare.
"Kecamatan Baamang dan Mentawa Baru Ketapang saat ini memang menjadi fokus perhatian utama kami karena tren penanganannya paling dominan dibanding wilayah lain. Luasan lahan yang terdata tersebut merupakan hasil pengukuran langsung area terdampak yang berhasil dipadamkan dan ditangani oleh tim petugas gabungan di lapangan," terangnya.
Multazam juga mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya pemijak lahan gambut di wilayah Baamang dan Mentawa Baru Ketapang, untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra serta menghentikan aktivitas pemicu api sekecil apa pun.
"Kami sangat meminta kesadaran warga untuk tidak sekali-kali membuka lahan dengan cara dibakar. Kondisi cuaca terik dan vegetasi gambut yang kering membuat api menyebar sangat cepat. Sinergi masyarakat dalam melaporkan potensi titik api sedini mungkin amat penting agar penanganan bisa cepat dilakukan sebelum meluas," tegas Multazam.
Saat ini personel gabungan dari BPBD, TNI/Polri, Manggala Agni, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) terus disiagakan di berbagai posko pemantauan untuk mengantisipasi potensi munculnya titik panas (hotspot) baru di seluruh pelosok Kotim. (DEVIANA/H)









