SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) untuk membahas anjloknya harga telur dibawah HET diwarnai kekecewaan. Pasalnya, rapat yang diharapkan menjadi wadah mencari solusi tersebut terpaksa dibatalkan karena sejumlah pejabat yang memiliki kewenangan mengambil keputusan tidak hadir.

Ketua Komisi II DPRD Kotim Akhyannor mengatakan, RDP digelar setelah Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim mengeluhkan rendahnya harga jual telur di tengah tingginya harga pakan yang terus membebani usaha peternak.

Menurutnya, salah satu solusi yang dapat dipertimbangkan adalah mendorong peternak memanfaatkan pakan hasil fermentasi untuk menekan biaya produksi.

"Harapan kami, setidaknya peternak ayam petelur bisa dibantu dengan teknologi fermentasi pakan sehingga dapat mengimbangi tingginya harga pakan. Saat ini harga pakan memang terus melambung, sehingga perlu ada alternatif agar biaya produksi bisa ditekan," kata Akhyannor, Senin, 3 Agustus 2026.

Ia menilai persoalan tersebut memerlukan peran pemerintah daerah, khususnya perangkat daerah terkait, untuk memberikan pendampingan maupun inovasi kepada peternak agar tidak sepenuhnya bergantung pada pakan pabrikan yang harganya terus meningkat.

"Ini menjadi tugas perangkat daerah untuk mencari solusi. DPRD hanya menjalankan fungsi pengawasan, bukan sebagai pengambil kebijakan. Kami hanya mengawal agar persoalan ini bisa diselesaikan dengan baik melalui kerja sama semua pihak," ujarnya.

Namun, upaya mencari solusi melalui RDP belum membuahkan hasil. Akhyannor mengaku kecewa karena pejabat terkait tidak menghadiri rapat, padahal undangan telah disampaikan jauh hari sebelumnya.

Menurutnya, ketidakhadiran pejabat tersebut membuat pembahasan tidak dapat menghasilkan keputusan yang dibutuhkan peternak maupun distributor telur.

"Kami cukup kecewa karena yang hadir hanya kepala bidang, sementara mereka bukan pengambil keputusan. Padahal RDP ini diharapkan menghasilkan kesepakatan yang bisa menjadi solusi bagi peternak dan distributor," ungkapnya.

Akhyannor berharap kejadian serupa tidak terulang pada agenda berikutnya. Ia menilai kehadiran para pemangku kebijakan sangat penting agar setiap persoalan yang dihadapi masyarakat dapat segera ditindaklanjuti dengan keputusan yang konkret.

"Kami berharap ke depan semua pihak bisa saling memahami dan saling menghargai. Kalau semua duduk bersama, saya yakin tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Tujuan kami hanya satu, yaitu memberikan solusi terbaik bagi peternak ayam petelur dan semua pihak yang terdampak," tegasnya.

Sebelumnya, Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim mengeluhkan harga telur yang terus turun, sementara harga pakan masih tinggi. Kondisi tersebut dinilai menekan keuntungan peternak dan menjadi alasan utama Komisi II DPRD Kotim mengagendakan RDP bersama pemerintah daerah dan pihak terkait untuk mencari langkah penyelesaian. (DEWI PATMALASARI/H)