BORNEONEWS, Sampit – Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mengeluhkan anjloknya harga telur yang dinilai sudah berada jauh di bawah harga acuan yang ditetapkan pemerintah, sementara harga pakan terus mengalami kenaikan sepanjang tahun ini.
Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim Arif Rahman Hakim mengatakan, kondisi tersebut membuat peternak mengalami kerugian dan kesulitan mempertahankan usahanya.
"Kami datang ke DPRD untuk menyampaikan keluh kesah peternak. Harga telur turun sangat drastis, bahkan sudah di bawah HPP, sedangkan harga pakan justru terus naik," kata Arif, Selasa, 4 Agustus 2026.
Hal itu ia sampaikan usai menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) Komisi II DPRD Kotim yang akhirnya dibatalkan karena pejabat yang berwenang mengambil keputusan dari eksekutif tidak hadir.
Dia menjelaskan harga pakan ayam petelur pada awal tahun masih berkisar Rp380.000 per karung. Namun kini harganya telah mencapai sekitar Rp440.000 per karung.
Menurutnya, sepanjang tahun 2026 harga pakan telah mengalami kenaikan sekitar 10 kali sehingga biaya produksi peternak terus membengkak.
"Dari awal tahun kenaikan harga pakan sudah sekitar 10 kali. Selisihnya hampir Rp100.000 per karung, sementara harga telur malah terus turun," ujarnya.
Arif mengatakan kondisi tersebut membuat hasil penjualan telur tidak lagi mampu menutup biaya produksi jika mengikuti harga telur di pasar Sampit yang di bawah hargaacuan pemerintah.
"Sekarang kami bukan lagi mencari keuntungan. Yang penting telur tidak busuk di gudang. Daripada dibuang, lebih baik dijual sesuai harga pasar meskipun rugi," katanya.
Ia menuturkan, pemerintah melalui Menteri Pangan sebelumnya telah menetapkan harga acuan telur ayam ras sebesar Rp26.500 per kilogram.
Dengan memperhitungkan selisih distribusi ke Kalimantan sekitar Rp3.000 per kilogram, harga yang diharapkan peternak di Kotim berada di kisaran Rp29.500 per kilogram. Namun kenyataannya, harga telur di tingkat peternak saat ini bahkan berada di bawah Rp22.000 per kilogram.
"Itu yang kami keluhkan. Selisihnya sangat jauh dari harga yang seharusnya dan jauh di bawah biaya produksi kami," ungkapnya.
Asosiasi sebenarnya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Kotim melalui Wakil Bupati maupun kepada Polres Kotim sebagai bagian dari Satgas Pangan.
Meski sempat dilakukan inspeksi mendadak (sidak), hingga kini belum ditemukan solusi yang mampu menstabilkan harga telur di pasaran. Karena itu, pihaknya kembali meminta perhatian DPRD Kotim agar memfasilitasi pertemuan dengan pemerintah daerah dan instansi terkait untuk mencari jalan keluar.
"Kami hanya ingin harga mengikuti acuan pemerintah. Kami tidak meminta lebih, yang penting harga telur dan harga pakan sama-sama stabil sehingga peternak bisa bertahan," tegasnya.
Arif mengaku bersyukur aspirasi peternak telah diterima DPRD Kotim meski RDP terpaksa ditunda karena belum dihadiri pejabat yang memiliki kewenangan mengambil keputusan.
Ia berharap pembahasan lanjutan dapat segera dilaksanakan karena kondisi peternak semakin tertekan.
"Kalau kondisi seperti ini terus berlangsung, kami tidak tahu sampai kapan bisa bertahan. Mudah-mudahan RDP berikutnya bisa segera digelar dan menghasilkan solusi bagi peternak ayam petelur di Kotim," pungkasnya.
Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim saat ini menaungi sekitar 50 peternak. Namun ia mengakui masih banyak peternak ayam petelur di daerah ini yang belum tergabung dalam asosiasi. (DEWI PATMALASARI/R)









