BORNEONEWS, Sampit – Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) meminta pemerintah segera mencari solusi untuk menstabilkan harga pakan ayam yang terus melonjak. Sebab, biaya pakan menjadi komponen terbesar dalam biaya produksi telur.
"Pakan ayam menyumbang sekitar 70 persen dari modal produksi. Kalau harga pakan terus naik, kami sangat kewalahan karena harga telur saat ini justru jauh di bawah harga acuan pemerintah," kata Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim Arif Rahman Hakim, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia mengungkapkan, harga pakan yang awal tahun masih berkisar Rp370.000 hingga Rp380.000 per karung kini telah mencapai sekitar Rp440.000 per karung.
Menurutnya, sepanjang tahun 2026 harga pakan telah mengalami kenaikan sekitar sembilan hingga sepuluh kali hanya dalam beberapa bulan.
"Kenaikan harga pakan sangat drastis, sementara biaya operasional terus berjalan dan harga telur tidak mampu mengikuti kenaikan tersebut," ujarnya.
Arif menjelaskan sebagian besar pakan ayam yang digunakan peternak di Kotim masih didatangkan dari Pulau Jawa. Karena itu, ia berharap keberadaan pabrik pengolahan pakan di Kecamatan Parenggean dapat segera beroperasi.
Hadirnya pabrik pakan di daerah akan menciptakan persaingan usaha yang sehat sekaligus membantu menekan harga pakan.
"Kalau memang pabrik pakan itu bisa jalan, bisa jadi satu kompetisi yang fair untuk menekan harga pakan. Mungkin itu juga salah satu solusi terbaik yang untuk saat ini," katanya.
Ia menegaskan peternak tidak menginginkan harga telur terlalu tinggi. Yang dibutuhkan adalah kestabilan harga pakan dan harga telur agar usaha tetap berjalan.
"Kami tidak ingin harga telur mahal karena nanti daya beli masyarakat turun. Yang kami inginkan harga stabil, biaya produksi tertutup, dan masih ada sisa untuk membayar gaji karyawan serta biaya operasional," jelasnya.
Saat ini 50 peternak telah tergabung dalam Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim. Namun, jumlah peternak di daerah ini diperkirakan jauh lebih banyak karena masih banyak peternak skala kecil yang belum bergabung. (DEWI PATMALASARI/R)









