BORNEONEWS, Sampit – Komisi II DPRD Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mendorong Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah segera mengoperasikan pabrik pakan ternak di Kecamatan Parenggean sebagai salah satu solusi mengatasi tingginya harga pakan ayam yang dikeluhkan peternak.
"Kami mendorong pemerintah provinsi agar pabrik pakan itu segera diaktifkan dan bisa berproduksi sehingga masyarakat, khususnya peternak, bisa mendapatkan pakan dengan harga yang lebih murah," kata Anggota Komisi II DPRD Kotim Hendra Sia, Selasa, 4 Agustus 2026.
Ia mengungkapkan, hingga kini pihaknya belum mengetahui penyebab pabrik tersebut belum beroperasi meski pembangunan fisik dan pengadaan peralatannya dikabarkan telah selesai.
"Kalau melihat kondisinya, bangunannya sudah ada dan saya dengar peralatannya juga sudah lengkap. Tinggal apa kendalanya sehingga belum berjalan, itu yang akan kami konsultasikan," ujarnya.
Komisi II DPRD Kotim akan berkoordinasi dengan Dinas Ketahanan Pangan karena pengelolaan pabrik tersebut berada di bawah kewenangan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah.
Ia menjelaskan, sejak awal pembangunan, proyek tersebut memang menjadi program pemerintah provinsi sehingga DPRD Kotim hanya dapat mendorong percepatan operasionalnya.
"Ranahnya memang di provinsi. Kami hanya mendorong agar segera diaktifkan karena keberadaannya sangat dibutuhkan peternak," katanya.
Politisi Partai Perindo tersebut menilai, operasional pabrik pakan yang berada di Desa Bukit Harapan, Kecamatan Parenggean, akan menjadi alternatif penting bagi peternak yang selama ini harus membeli pakan dari luar daerah dengan harga yang terus meningkat.
"Kalau ada pabrik pakan di Kotim sendiri, tentu harga bisa lebih murah dibanding harus mendatangkan dari Jawa. Itu bisa menjadi salah satu solusi untuk membantu peternak," ucapnya.
Sebelumnya, Ketua Asosiasi Peternak Ayam Petelur Kotim Arif Rahman Hakim mengungkapkan, harga pakan saat ini telah naik dari sekitar Rp370.000-Rp380.000 di awal tahun, saat ini menjadi Rp440.000 per karung. Bahkan, sepanjang tahun 2026 kenaikannya terjadi hingga sembilan sampai sepuluh kali.
Di sisi lain, harga telur justru turun jauh di bawah harga acuan pemerintah sehingga banyak peternak mengalami kerugian.
Menurut Arif, sekitar 70 persen biaya produksi usaha ayam petelur berasal dari pakan. Karena itu, kestabilan harga pakan menjadi faktor utama agar usaha peternakan lokal tetap bertahan.
Ia berharap pabrik pakan di Parenggean segera beroperasi sehingga tercipta persaingan yang sehat dan harga pakan dapat ditekan demi menjaga keberlangsungan usaha peternak ayam petelur di Kotim. (DEWI PATMALASARI/R)









