BORNEONEWS, Palangka Raya – Wacana program pembagian kompor listrik gratis pada 2027 mendapat beragam tanggapan dari masyarakat Kota Palangka Raya.
Program yang disebut bertujuan mengurangi penggunaan LPG 3 kilogram tersebut dinilai perlu dikaji secara matang, terutama karena pasokan listrik di daerah masih kerap mengalami gangguan.
Dewi, warga Palangka Raya, mengaku belum yakin penggunaan kompor listrik dapat diterapkan secara efektif apabila pemadaman bergilir masih sering terjadi.
“Sekarang saja listrik masih sering padam. Kalau nanti masyarakat diminta beralih ke kompor listrik, bagaimana mau memasak apabila pasokan listrik belum stabil?” kata Dewi saat diwawancarai Borneonews melalui WhatsApp, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan kesiapan dan keandalan infrastruktur kelistrikan sebelum mendorong masyarakat beralih menggunakan kompor listrik.
“Menurut saya, program itu belum relevan apabila kondisi kelistrikan belum benar-benar andal,” ujarnya.
Warga lainnya, Darto, menilai gagasan penggunaan kompor listrik memiliki tujuan yang baik apabila mampu meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi ketergantungan terhadap LPG.
Namun, pemerintah diminta mempertimbangkan kesiapan anggaran, kondisi jaringan listrik, dan infrastruktur pendukung sebelum program tersebut dilaksanakan.
“Programnya mungkin bagus, tetapi harus dipikirkan secara matang. Jangan sampai menghabiskan anggaran besar, sementara masih banyak program yang perlu diselesaikan, seperti pembangunan infrastruktur dan pelayanan dasar,” katanya.
Darto berharap pelaksanaan program tidak justru menimbulkan persoalan baru bagi masyarakat, khususnya ketika pasokan listrik terganggu.
Masyarakat meminta setiap kebijakan energi disusun dengan mempertimbangkan kondisi riil di daerah agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal. (MARINI/J)









