BORNEONEWS, Palangka Raya - Badan Pengelola Dana Perkebunan atau BPDP menggelar Press Tour Media BPDP Tahun 2026 di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah sebagai upaya memperkuat pemahaman publik mengenai peran strategis industri kelapa sawit terhadap perekonomian nasional sekaligus memperlihatkan implementasi berbagai program pengembangan perkebunan yang didukung BPDP.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP, Zaid Burhan Ibrahim, mengatakan industri kelapa sawit memiliki kontribusi besar tidak hanya sebagai komoditas ekspor unggulan Indonesia, tetapi juga sebagai penggerak pembangunan ekonomi yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
"Kelapa sawit merupakan komoditas strategis yang memiliki dimensi ekonomi, sosial, energi, bahkan geopolitik. Oleh karena itu, pengembangannya memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat," ujar Zaid saat membuka kegiatan Press Tour Media BPDP Tahun 2026 di Pangkalan Bun seperti dalam rilis yang diterima Borneonews pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, keberadaan industri sawit telah menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan pekebun, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional melalui pengembangan energi berbasis biodiesel.
Karena itu, BPDP terus mendorong berbagai program yang mendukung peningkatan produktivitas, keberlanjutan, dan daya saing sektor perkebunan kelapa sawit Indonesia.
Menurut Zaid, kebutuhan minyak nabati dunia yang terus meningkat menjadikan kelapa sawit sebagai komoditas dengan keunggulan kompetitif dibandingkan tanaman penghasil minyak nabati lainnya.
Dengan produktivitas sekitar empat ton minyak per hektare, kelapa sawit mampu menghasilkan minyak nabati jauh lebih tinggi sehingga menjadi tanaman paling efisien dalam pemanfaatan lahan.
Selain memiliki produktivitas tinggi, industri sawit nasional juga terus mengalami transformasi melalui penguatan sektor hilir.
Saat ini lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia telah berupa produk hilir yang memiliki nilai tambah lebih tinggi dibandingkan bahan baku mentah.
Kondisi tersebut dinilai menjadi bukti keberhasilan pengembangan industri sawit yang tidak hanya berorientasi pada volume ekspor, tetapi juga peningkatan nilai ekonomi bagi negara dan masyarakat.(TESTI PRISCILLA)









