PULANG PISAU –

BORNEONEWS, Pulang Pisau – Kebakaran hutan dan lahan di Desa Tumbang Nusa, Kecamatan Jabiren Raya, Kabupaten Pulang Pisau, masih berlangsung hingga Rabu, 5 Agustus 2026.

Sejumlah titik api masih terpantau dan sebagian dilaporkan membesar akibat cuaca panas, kencangnya angin, serta banyaknya vegetasi kering yang menjadi bahan bakar kebakaran.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pulang Pisau, Herman Wibowo mengatakan, kondisi di lapangan masih dinamis sehingga membutuhkan penanganan intensif dari tim gabungan.

“Kalau melihat perkembangan di lapangan, masih ada beberapa titik api dan sebagian membesar. Hal ini dipengaruhi ketersediaan bahan bakar vegetasi, cuaca yang sangat terik, dan pergerakan angin yang memicu munculnya titik api baru,” kata Herman.

Satuan Tugas Karhutla terus melakukan pemadaman, pengendalian, dan pembasahan pada sejumlah lokasi rawan.

Namun, petugas menghadapi sejumlah kendala, mulai dari suhu panas, angin kencang, hingga terbatasnya sumber air di sekitar lokasi kebakaran.

Menurut Herman, api sempat bergerak mendekati badan jalan sehingga tim gabungan harus melakukan penanganan cepat agar tidak menyeberang ke sisi lainnya.

“Dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah melalui BPBD dan Dinas Kehutanan dengan mobil tangki serta mobil pemadam, ditambah armada kabupaten dan TNI-Polri, mampu menahan pergerakan api di pinggir jalan agar tidak melompat ke seberang,” ujarnya.

Berdasarkan pendataan lapangan tiga hari sebelumnya, luas lahan yang terdampak diperkirakan mencapai sekitar 122 hektare.

Namun, angka tersebut masih bersifat sementara karena api terus bergerak dan hasil pemantauan udara berpotensi menunjukkan adanya penambahan luas kebakaran.

“Data sementara sekitar 122 hektare, tetapi sangat dinamis karena api masih bergerak. Hasil pantauan udara juga bisa menunjukkan penambahan luas,” jelasnya.

Selain Tumbang Nusa, BPBD turut mewaspadai pergerakan api menuju Desa Taruna yang berbatasan langsung dengan lokasi kebakaran.

Untuk menghambat laju api, tiga unit ekskavator dikerahkan ke kawasan sekat kanal.

Pendalaman kanal dilakukan untuk menahan air. Sementara lumpur yang diangkat ke permukaan digunakan membantu pembasahan lahan gambut sekaligus membentuk penghalang agar api tidak merambat.

“Kami berharap pendalaman kanal ini dapat membantu pembasahan dan menghentikan pergerakan api dari Tumbang Nusa menuju Taruna,” katanya.

BPBD Pulang Pisau juga berharap operasi modifikasi cuaca dapat dilakukan untuk membantu pemadaman.

Namun, pelaksanaannya masih bergantung pada ketersediaan dan pertumbuhan awan di wilayah sasaran.

“Sangat kami harapkan hujan buatan, tetapi saat ini titik kumpul awan belum terbentuk di wilayah Tumbang Nusa dan Taruna,” ujar Herman.

BPBD terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

“Apabila pertumbuhan awan mengarah ke wilayah tersebut, pelaksanaan modifikasi cuaca akan dilakukan,” pungkasnya. (RETHA/j)