BORNEONEWS, Sampit – Kondisi kualitas udara dan jarak pandang di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) saat ini masih dalam perhatian serius pihak berwenang. Masyarakat yang memiliki penyakit komorbid seperti asma disarankan tetap berhati-hati, namun masih diperbolehkan beraktivitas di luar ruangan dengan wajib menggunakan masker.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam K. Anwar, menjelaskan bahwa dalam tiga hari terakhir, titik api di Desa Camba menjadi penyumbang titik panas (hotspot) tertinggi di wilayah Kalimantan Tengah berdasarkan pantauan BMKG.
"Kondisi kebakaran cukup hebat dalam tiga hari terakhir terjadi di Desa Camba. Kontribusi hotspot-nya pada alat pemantauan BMKG tertinggi. Bahkan dalam rapat koordinasi, posko menyatakan Kotim memiliki hotspot tertinggi di Kalimantan Tengah," ujar Multazam, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia juga menyampaikan perubahan kondisi jarak pandang yang sempat berada dalam kategori berbahaya. Pada pagi tadi jarak pandang tercatat sangat terbatas, pada pukul 06.00 WIB jarak pandang hanya 2,5 yang masuk kategori situasi berbahaya.
"Beberapa saat kemudian sinar matahari mulai terlihat dan kecepatan angin meningkat sehingga kondisi membaik. Namun, perbaikan sementara ini bukan berarti masalah selesai, kemungkinan besar besok kondisi serupa bisa berulang kembali," jelasnya.
Rencana penanganan melalui udara dengan metode pengeboman air (water bombing) terpaksa dibatalkan sementara karena keterbatasan jarak pandang dan faktor keamanan penerbangan.
"Kami sudah mendapat persetujuan untuk melakukan water bombing di Desa Camba, namun karena visibilitas dan keamanan operasi, akhirnya helikopter kembali ke Palangka Raya. Kami belum menerima informasi apakah operasi akan dilanjutkan atau ditunda hingga kondisi memungkinkan," katanya.
Sementara itu, penanganan dari sisi darat terus dilakukan. BPBD telah mengerahkan satu tim khusus untuk membantu pemadaman. Walaupun menurutnya mungkin dampak langsungnya belum terlihat besar, namun hal tersebut adalah bukti keseriusan pihaknya.
"Kami di posko bersama unsur TNI, Polri, dan unsur terkait terus berupaya menyelesaikan api secara bertahap, sebagaimana yang telah kami lakukan di kawasan Eka Bahurui. Justru pasukan darat inilah yang nantinya akan berkontribusi besar dalam pemadaman total," tambahnya.
Multazam juga mengimbau masyarakat, khususnya pemilik lahan dan ladang, untuk turut serta mencegah kebakaran.
"Saya menyarankan kepada para petani dan pemilik ladang, apabila masih terdapat sumur bor di wilayah kebun agar dimanfaatkan sebaik mungkin. Air dari sumur bor dapat disalurkan menggunakan pipa untuk membasahi lahan, sehingga dapat mencegah lahan terbakar dan lebih efisien dalam penanganan dini," pungkas Multazam. (DEVIANA/j)









