BORNEONEWS, Sampit – Proyek pembangunan drainase di Jalan DI Panjaitan, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), segera memasuki tahap pelaksanaan akhir Agustus 2026.
"Untuk di lapangan belum mulai (pekerjaan). Saat ini masih proses persiapan besi dan menunggu hasil pengujian material sebelum material digunakan di lapangan. Terakhir yang dilakukan di lokasi adalah pengukuran detail pekerjaan," kata Kepala Dinas Sumber Daya Air, Bina Marga, Bina Konstruksi, Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (SDABMBKPRKP) Kotim Mentana Dhinar Tistama melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Proyek Drainase Jalan DI Panjaitan Satria Wijaya, Rabu, 5 Agustus 2026.
Ia menjelaskan pembangunan drainase Jalan DI Panjaitan akan dikerjakan pada dua titik. Untuk sisi barat, pekerjaan dimulai dari Simpang Jalan Pelita menuju Pasar Sejumput hingga Jembatan Sungai Mentawa. Sedangkan di sisi timur, pengerjaan dilakukan dari Jembatan Sungai Mentawa, kawasan Masjid Pasar Sejumput hingga sekitar Rocket Chicken.
Sebelum pelaksanaan proyek, pemerintah telah menggelar rapat koordinasi bersama masyarakat yang difasilitasi pihak kelurahan dan kecamatan. Dalam pertemuan tersebut, warga telah diberi penjelasan bahwa aktivitas mereka akan terdampak selama proses pembangunan berlangsung.
Menurut Satria, mayoritas warga menyatakan mendukung pelaksanaan proyek karena diyakini mampu mengurangi banjir yang selama ini terjadi di kawasan tersebut.
"Ada salah satu pemilik beberapa toko yang sangat mendukung karena di kawasan itu ada TPA yang sering terdampak banjir. Mereka setuju, hanya meminta dibuatkan akses jalan sementara selama proses penggalian berlangsung," ujarnya.
Sebagai solusi, pihak pelaksana akan menyediakan akses sementara menggunakan kayu agar aktivitas masyarakat tetap berjalan. Setelah proyek selesai, seluruh saluran drainase akan ditutup menggunakan penutup beton.
Saat ini kontraktor juga masih menyelesaikan persiapan besi tulangan. Seluruh besi yang akan digunakan akan ditimbang kembali sebagai bagian dari proses administrasi karena berat material harus disesuaikan sebelum pekerjaan fisik dimulai.
"Setelah administrasi selesai baru mereka mulai menggali sehingga langsung bisa dilakukan pembesian, bekisting dan pengecoran agar pekerjaan lebih cepat," jelasnya.
Ia memperkirakan penggalian paling cepat dapat dimulai pada minggu ketiga Agustus 2026. Namun jadwal tersebut masih bersifat perkiraan karena masih bergantung pada hasil pengujian material serta proses administrasi lainnya.
"Perkiraan paling cepat minggu ketiga Agustus. Tetapi karena bertepatan dengan peringatan 17 Agustus, kemungkinan masih bisa bergeser," imbuhnya.
Satria menambahkan masa pelaksanaan proyek berdasarkan kontrak berlangsung hingga 7 Desember 2026 dengan nilai kontrak sebesar Rp7,177 miliar.
Untuk mendukung kelancaran pekerjaan, pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Dinas Perhubungan Kotim terkait rekayasa lalu lintas selama proses penggalian berlangsung.
"Dari Dishub nanti akan kami surati apakah sistemnya penutupan total atau buka tutup jalan. Mereka akan membantu pengaturan lalu lintas selama pekerjaan berlangsung," ujarnya.
Ia mengakui proyek drainase di Jalan DI Panjaitan menjadi salah satu pekerjaan yang paling menantang karena berada di kawasan padat aktivitas dan pusat perdagangan.
"Kalau saluran di DI Panjaitan ini tidak dibuka terlebih dahulu, kami tidak berani membuka drainase di Jalan Pelita. Kalau dipaksakan, justru banjir akan menumpuk di kawasan DI Panjaitan," katanya.
Karena itu, pihaknya telah tiga kali menggelar rapat bersama masyarakat, pemerintah kelurahan, kecamatan, dan instansi terkait guna memastikan pelaksanaan proyek berjalan lancar tanpa menimbulkan konflik.
Hasil sosialisasi menunjukkan warga bersedia mendukung pembangunan. Meski demikian, beberapa pedagang yang berjualan di atas saluran drainase sempat menanyakan lokasi untuk berdagang selama proyek berlangsung.
Bagi pedagang yang berada di depan masjid dan belum memiliki lapak, pemerintah kecamatan menyarankan agar sementara waktu memanfaatkan area di dalam pagar masjid. Sementara pedagang lainnya yang memiliki toko di belakang diminta membongkar sendiri bangunan atau lapak yang menjorok ke atas saluran agar materialnya masih dapat digunakan kembali.
Sebagian besar pedagang memilih membongkar lapaknya secara mandiri. Pelaksanaan proyek pun dimulai dari Simpang Pelita sehingga pedagang bisa memperkirakan waktu untuk kapan harus mulai membongkar lapak masing-masing. (DEWI PATMALASARI/j)









