BORNEONEWS, Baghdad – Pemerintah Irak berencana segera membangun pipa minyak baru menuju Turki dan Suriah sebagai upaya memperluas serta mendiversifikasi jalur ekspor hidrokarbon negara tersebut.
Juru Bicara Kementerian Perminyakan Irak, Salim al-Rikabi mengatakan, pemerintah tengah menyelesaikan seluruh prosedur yang diperlukan sebelum pembangunan pipa dimulai.
“Langkah selanjutnya adalah merampungkan seluruh prosedur untuk memulai pembangunan pipa minyak baru Basra–Haditha, yang selanjutnya akan terhubung ke Ceyhan di Turki dan Baniyas di Suriah,” kata al-Rikabi, Selasa, 4 Agustus 2026.
Rencana tersebut menjadi tindak lanjut kesepakatan yang telah dicapai Irak bersama Pemerintah Turki dan Suriah mengenai pengangkutan serta pengembangan jalur ekspor minyak.
Pada 1 Agustus 2026, Irak dan Turki menandatangani kesepakatan pengangkutan minyak mentah Irak melalui jaringan pipa menuju Pelabuhan Ceyhan.
Kesepakatan itu menetapkan kapasitas aliran minimum sebesar 750.000 barel minyak per hari.
Sebelumnya, Irak dan Suriah juga menandatangani nota kesepahaman di Washington pada 17 Juli 2026 mengenai pemulihan jaringan pipa minyak yang menghubungkan kedua negara.
Pemerintah Irak berupaya memperluas jalur pengiriman minyak karena sektor perminyakan negara itu disebut terdampak konflik di kawasan Teluk Persia dan terganggunya pelayaran melalui Selat Hormuz.
Selama ini, sebagian besar ekspor minyak Irak dikirim melalui jalur laut tersebut.
Pembangunan pipa menuju Turki dan Suriah diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap satu rute serta menjaga kelancaran ekspor apabila terjadi gangguan pada jalur pelayaran utama.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA/ANTARA









