JAKARTA –

BORNEONEWS, Ankara – Qatar, Arab Saudi, dan Yordania berpeluang menjadi bagian dari rute baru penyaluran gas alam menuju Turki sebelum diteruskan ke pasar Eropa.

Menteri Energi dan Sumber Daya Alam Turki, Alparslan Bayraktar mengatakan, rute alternatif tersebut dapat melintasi sejumlah negara di kawasan Timur Tengah.

“Rute alternatif dapat melintasi Qatar, Arab Saudi, Yordania, dan Suriah, kemudian menyalurkan gas tersebut ke Turki,” kata Bayraktar dalam wawancara dengan TRT Haber, Selasa, 4 Agustus 2026.

Menurutnya, Turki juga tengah membahas sejumlah proyek energi bersama Irak.

Pada tahap awal, proyek tersebut mencakup rencana penyaluran gas alam melalui infrastruktur Turki menuju pembangkit listrik di Irak.

Pasokan gas itu diharapkan dapat membantu memenuhi sebagian kebutuhan bahan bakar pembangkit listrik di negara tersebut.

Turki juga mempertimbangkan pembangunan pipa gas yang sejajar dengan rencana pembangunan pipa minyak menuju Basra serta jalur transmisi listrik.

Bayraktar mengatakan, infrastruktur tersebut berpotensi membuka jalur bagi Qatar dan negara-negara Teluk lainnya untuk menyalurkan gas melalui Irak menuju Turki.

Gas tersebut selanjutnya dapat diteruskan ke pasar Eropa melalui jaringan energi yang dimiliki Turki.

Ia menegaskan, Turki memiliki salah satu infrastruktur gas termaju di kawasan.

Negara tersebut telah membangun lebih dari 14.000 mil jaringan pipa gas bertekanan tinggi dan sekitar 136.000 mil jaringan distribusi untuk melayani rumah tangga maupun sektor usaha.

Menurut Bayraktar, keberadaan infrastruktur tersebut akan mendukung pengembangan proyek energi berskala besar sekaligus memperkuat posisi Turki sebagai pusat distribusi gas di kawasan.

Sebelumnya, Irak dan Turki menandatangani perjanjian pengangkutan serta pengalihan muatan minyak mentah Irak melalui pipa menuju Pelabuhan Ceyhan pada 1 Agustus 2026.

Perjanjian tersebut menetapkan kapasitas aliran minimum sebesar 750.000 barel minyak per hari.

Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA/ANTARA