JAKARTA –

BORNEONEWS, Washington – Pemerintah Amerika Serikat mencabut visa Duta Besar Brasil untuk Washington, Maria Luiza Ribeiro Viotti, di tengah meningkatnya ketegangan diplomatik antara kedua negara.

Langkah tersebut diambil setelah Brasil belum memberikan persetujuan diplomatik atau agrément terhadap Daniel Perez, calon Duta Besar AS untuk Brasil yang diajukan pemerintahan Presiden Donald Trump.

Brasil juga menolak permohonan visa bagi dua diplomat Amerika Serikat yang dijadwalkan berkunjung menjelang pelaksanaan pemilihan presiden di negara tersebut.

Seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS mengatakan, pencabutan visa tersebut bersifat sementara dan dapat dibatalkan apabila perselisihan diplomatik antara Washington dan Brasilia telah diselesaikan.

Amerika Serikat menyatakan keputusan itu merupakan bentuk respons terhadap penundaan persetujuan calon duta besar dan penolakan visa terhadap sejumlah pejabatnya.

Sementara itu, Pemerintah Brasil menilai proses persetujuan calon duta besar masih berjalan sesuai prosedur diplomatik yang berlaku. Brasil juga menuding Washington berupaya mencampuri proses politik dalam negeri menjelang pemilihan presiden pada Oktober 2026.

Pencabutan visa tidak serta-merta berarti Maria Luiza Ribeiro Viotti diusir dari Amerika Serikat. Washington menyatakan dokumen tersebut dapat dipulihkan apabila Brasil memberikan persetujuan terhadap calon duta besar yang diusulkan dan hubungan diplomatik kembali normal.

Sebelumnya, pada 1 Juni 2026, Trump mencalonkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Negara Bagian Florida, Daniel Perez, sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Brasil.

Namun, pencalonan tersebut masih membutuhkan persetujuan Pemerintah Brasil sebelum Daniel Perez dapat menjalankan tugas diplomatiknya di negara tersebut.

Perselisihan ini memperburuk hubungan Washington dan Brasilia yang sebelumnya telah diwarnai perbedaan pandangan politik, tuduhan intervensi terhadap urusan dalam negeri Brasil, serta ketegangan menjelang pemilihan presiden.

Sumber: Reuters, AP, Sputnik/RIA Novosti-OANA/ANTARA