JAKARTA –

BORNEONEWS, Jakarta – Badan Pangan Nasional atau Bapanas menyatakan kenaikan harga gabah ke level tertinggi dalam delapan tahun terakhir berhasil meningkatkan pendapatan petani tanpa memicu lonjakan inflasi beras secara signifikan.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengatakan pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen.

“Di satu sisi, kesejahteraan petani padi terus meningkat dengan indeks harga yang diterima petani mencapai level tertinggi dalam delapan tahun terakhir,” katanya dalam keterangan di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik, indeks harga yang diterima petani pada Juli 2026 mencapai 151,10. Angka tersebut menjadi capaian tertinggi dalam delapan tahun terakhir dan menunjukkan harga gabah semakin menguntungkan petani.

Pada saat bersamaan, pemerintah mengklaim inflasi beras tetap terkendali melalui penguatan Cadangan Beras Pemerintah atau CBP dan pelaksanaan berbagai program stabilisasi harga.

Amran mengatakan beras merupakan komoditas strategis sehingga harga gabah perlu dijaga agar tetap memberikan keuntungan yang layak kepada petani.

Harga yang menguntungkan dinilai penting untuk mempertahankan minat petani menanam padi, menjaga surplus produksi, dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor.

“Kalau petani berhenti menanam, kita harus impor seperti 2023 dan 2024 sampai tujuh juta ton. Namun, pada 2025 tidak ada impor beras medium karena kita surplus,” ujarnya.

Pemerintah saat ini memiliki stok CBP sekitar 5,2 juta ton. Cadangan tersebut digunakan sebagai instrumen untuk menjaga ketersediaan pasokan, kestabilan harga, dan ketahanan pangan nasional.

BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani secara nasional pada Juli 2026 mencapai 127,84. Capaian itu merupakan yang tertinggi sejak penghitungan menggunakan tahun dasar 2018.

Nilai Tukar Petani Subsektor Tanaman Pangan meningkat dari 114,65 menjadi 116,16 atau tumbuh 1,32 persen.

Kenaikan tersebut salah satunya didorong peningkatan indeks kelompok padi sebesar 0,97 persen.

Bapanas menilai perbaikan pendapatan petani turut dipengaruhi penyerapan hasil panen oleh Perum Bulog.

Bulog tercatat telah menyerap 3,57 juta ton hasil panen petani menggunakan instrumen Harga Pembelian Pemerintah minimal Rp6.500 per kilogram.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan kenaikan harga gabah memang turut memengaruhi harga beras di tingkat konsumen.

Namun, pergerakan harga beras dinilai masih relatif stabil karena pemerintah terus melakukan intervensi dengan menyalurkan stok CBP.

“Gabah saat ini memang relatif sangat bagus bagi petani, tetapi berdampak terhadap harga beras. Ada beberapa jenis beras yang naik sedikit, tetapi masih cukup stabil karena intervensi pemerintah terus dilakukan,” jelasnya.

Bapanas mencatat penyaluran CBP sepanjang Januari hingga Juli 2026 telah mencapai 1,45 juta ton.

Jumlah tersebut terdiri atas realisasi penjualan beras melalui Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan pada Januari hingga Februari sebanyak 221,05 ribu ton.

Penyaluran SPHP beras pada Maret hingga Juli tercatat mencapai 570,79 ribu ton. Pemerintah juga telah merealisasikan bantuan pangan tahap pertama sebanyak 662,88 ribu ton.

Pemerintah selanjutnya merencanakan penyaluran bantuan pangan beras tahap kedua sebanyak 997,2 ribu ton kepada 33,24 juta keluarga.

Setiap keluarga akan memperoleh beras sebanyak 10 kilogram per bulan untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026.

Dengan tambahan tersebut, pemerintah bersama Bulog diperkirakan dapat menyalurkan lebih dari dua juta ton CBP dari total stok yang masih berada di kisaran 5,25 juta ton.

Berdasarkan pantauan Bapanas sepanjang Juli 2026, rata-rata harga beras premium secara nasional mencapai Rp15.972 per kilogram.

Sementara harga rata-rata beras medium berada di level Rp13.564 per kilogram. Harga eceran tertinggi beras medium ditetapkan antara Rp13.500 hingga Rp15.500 per kilogram sesuai pembagian wilayah.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, sebelumnya menyampaikan inflasi beras secara tahunan turun dari 3,98 persen menjadi 3,10 persen.

Adapun inflasi beras secara bulanan tercatat relatif rendah, yakni sebesar 0,49 persen.

ANTARA