BANJARMASIN –

BORNEONEWS, Banjarbaru – Seragam sekolah yang sempat Anna Maggefirah pikir tidak akan dikenakannya lagi, kini kembali menjadi bagian dari kesehariannya.

Di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) 9 Banjarbaru, Kalimantan Selatan, remaja berusia 16 tahun itu mulai menata kembali masa depan yang sempat terasa jauh dari jangkauan.

Setahun sebelumnya, hidup Anna berada dalam ketidakpastian. Selepas lulus SMP, ia tidak seperti kebanyakan teman sebayanya yang sibuk mempersiapkan diri masuk SMA.

Kedua orang tuanya telah meninggal dunia. Anna kemudian tinggal bersama bibinya. Kondisi ekonomi membuat kebutuhan untuk melanjutkan pendidikan, mulai dari seragam, buku hingga perlengkapan sekolah, terasa berat.

“Orang tua saya sudah meninggal, saya tinggal bersama bibi. Saat libur semester, saya cuma mengunjungi rumah bibi,” kata Anna.

Keinginannya untuk tetap sekolah sebenarnya tidak pernah hilang. Namun saat itu, ia belum melihat jalan yang memungkinkan.

Anna bahkan sempat berjualan kue di sekitar tempat tinggalnya. Aktivitas tersebut dijalani bukan karena ia sudah menyerah pada pendidikan, tetapi karena keadaan membuatnya harus mencari pilihan lain.

Harapan itu muncul kembali setelah Ketua RT di tempat tinggalnya memberikan informasi mengenai Sekolah Rakyat, program pendidikan yang ditujukan bagi anak dari keluarga kurang mampu.

“Awalnya bingung mau sekolah di mana karena ekonomi. Terus ketemu sama Pak RT, dia bilang tentang sekolah ini. Saya tertarik, terus diusahakan sampai saya bisa sekolah di sini,” ujarnya.

Anna akhirnya mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat pada 14 Juli 2025.

Pada awalnya, keraguan masih menghantuinya. Ia khawatir perjalanan pendidikannya kembali terhenti karena persoalan yang sama.

Namun, informasi mengenai peluang beasiswa untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi membuat keyakinannya tumbuh.

“Sebenarnya khawatir nanti berhenti di tengah jalan. Tapi setelah dengar ada beasiswa kuliah bagi lulusan Sekolah Rakyat, saya ingin berusaha mendapat nilai terbaik,” katanya.

Mimpi yang kembali tumbuh

Berada di sekolah berasrama memberikan pengalaman berbeda bagi Anna.

Kebutuhan pendidikan mulai dari tempat tinggal, makanan, perlengkapan sekolah hingga buku pelajaran tersedia sehingga ia dapat lebih fokus menjalani proses pembelajaran.

Perlahan, kepercayaan dirinya ikut tumbuh.

Anna kini dipercaya mengemban tugas sebagai Wakil Ketua OSIS SRT 9 Banjarbaru.

Ia juga pernah mendapat kesempatan berpidato menggunakan bahasa Inggris di hadapan Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Pengalaman tersebut menjadi salah satu momen yang paling berkesan baginya selama bersekolah.

Tak hanya aktif berorganisasi, Anna juga mengikuti berbagai kegiatan pengembangan diri.

Ia pernah menjadi peserta Olimpiade Sains Nasional serta Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N). Dalam ajang FLS2N, Anna berhasil meraih juara ketiga lomba membaca puisi.

Di sela kesibukannya, perpustakaan menjadi salah satu tempat yang paling sering ia kunjungi.

Anna gemar membaca buku bertema sosiologi dan sejarah. Ketertarikan terhadap kehidupan manusia dan berbagai persoalan sosial perlahan mengarahkannya pada satu cita-cita, yakni menjadi psikolog.

“Saya mau menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat untuk memperluas wawasan dan pengetahuan, mengubah mindset biar lebih maju. Supaya dianggap punya pengalaman, punya ilmu buat dibagi,” tuturnya.

Membaca, bagi Anna, tidak hanya menjadi kegiatan mengisi waktu. Buku membuka cara pandangnya terhadap manusia, kehidupan dan persoalan yang dihadapi orang lain.

Dari sana pula muncul keinginannya untuk suatu hari menulis sebuah buku. Ia ingin pengalaman hidup yang pernah dilewati dapat menjadi semangat bagi anak-anak lain yang menghadapi keterbatasan serupa.

Menatap bangku kuliah

Perjalanan Anna menjadi salah satu potret anak yang mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan melalui Sekolah Rakyat.

Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengatakan program Sekolah Rakyat yang digagas Presiden Prabowo Subianto ditujukan kepada anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem yang mengalami keterbatasan akses pendidikan.

“Yang pertama untuk memuliakan wong cilik dengan memberikan penghormatan, fasilitas sekolah unggulan, pelayanan terbaik, menumbuhkan kepercayaan siswa agar mereka merasa setara dan berdaya. Semua difasilitasi negara,” kata Saifullah.

Seluruh kebutuhan siswa selama mengikuti pendidikan, mulai dari tempat tinggal, makan, perlengkapan hingga biaya sekolah, ditanggung agar persoalan ekonomi tidak menjadi penghalang dalam proses belajar.

Program tersebut juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk mengembangkan bakat, memperkuat kepercayaan diri dan mempersiapkan masa depan.

Bagi Anna, kesempatan itu memiliki arti lebih dari sekadar bisa kembali duduk di ruang kelas.

Sekolah Rakyat menjadi jalan untuk mengejar kembali mimpi yang sebelumnya nyaris ia lepaskan.

Kini, targetnya semakin jelas. Anna ingin menyelesaikan pendidikan menengah dengan hasil terbaik, melanjutkan ke perguruan tinggi dan kelak menjadi seorang psikolog.

“Setelah lulus dari Sekolah Rakyat, saya nggak mau langsung kerja. Saya mau lanjut kuliah,” katanya.

Perjalanan itu memang masih panjang. Namun, bagi Anna, bisa kembali mengenakan seragam sekolah sudah menjadi bukti bahwa keterbatasan tidak selalu harus mengakhiri sebuah cita-cita.

ANTARA