SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Matahari pagi belum terlalu tinggi ketika sejumlah petugas kesehatan berdiri di tepi persimpangan jalan kota Sampit. Di tengah lalu lintas warga yang mulai padat, tangan mereka bergantian menyodorkan masker kepada pengendara yang melintas.

Masker-masker itu mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti sejumlah wilayah Kotawaringin Timur, benda kecil tersebut menjadi salah satu lapisan perlindungan bagi masyarakat dari risiko gangguan pernapasan.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kotawaringin Timur menggencarkan pembagian masker gratis sebagai langkah mengurangi dampak kesehatan akibat paparan kabut asap, terutama risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut atau ISPA.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kotim Nugroho Kuncoro Yudho mengatakan pembagian masker sekaligus menjadi pengingat kepada masyarakat agar lebih disiplin melindungi diri ketika harus beraktivitas di luar rumah.

“Ini merupakan bagian dari upaya menekan dampak kesehatan akibat kabut asap, terutama meningkatnya risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk selalu mengenakan masker ketika berada di luar rumah,” kata Nugroho di Sampit, Jumat, 7 Agustus 2026.

Pembagian masker telah dilakukan beberapa kali, yakni pada 28 dan 29 Juli serta 6 dan 7 Agustus 2026.

Petugas mulai turun ke lapangan sejak sekitar pukul 06.00 WIB. Waktu pagi dipilih karena bertepatan dengan tingginya mobilitas masyarakat yang hendak berangkat bekerja, mengantar anak ke sekolah maupun menjalankan aktivitas sehari-hari.

Ada empat titik yang menjadi lokasi pembagian masker.

Petugas ditempatkan di Jalan Jenderal Sudirman kawasan Islamic Center Sampit, simpang Jalan Tjilik Riwut-Jalan Tidar, simpang Jalan Ahmad Yani-Jalan HM Arsyad serta simpang Jalan MT Haryono-Jalan Suprapto.

Di lokasi tersebut, masker dibagikan langsung kepada pengendara maupun warga yang melintas.

“Dalam setiap kegiatan kami menyiapkan 100 kotak masker anak dan 40 kotak masker dewasa untuk dibagikan secara gratis kepada masyarakat,” ujarnya.

Stok mulai menipis

Upaya membagikan masker di tengah kabut asap ternyata menghadapi tantangan lain.

Persediaan masker yang dimiliki Dinkes Kotim mulai terbatas.

Nugroho mengungkapkan stok masker dewasa yang tersimpan di gudang saat ini tersisa sekitar 15 dus atau sekitar 750 kotak.

Sementara itu, persediaan masker untuk anak telah habis.

Kondisi tersebut membuat pola penyaluran masker berikutnya kemungkinan harus disesuaikan dengan jumlah logistik yang masih tersedia.

“Karena stok masker terbatas, kemungkinan penyaluran berikutnya difokuskan melalui puskesmas bagi pasien yang mengalami gangguan pernapasan, sambil menunggu proses pengadaan atau tindak lanjut berikutnya,” katanya.

Langkah tersebut ditempuh agar persediaan masker yang tersisa dapat diprioritaskan bagi masyarakat yang paling membutuhkan, terutama mereka yang mulai mengalami keluhan kesehatan akibat paparan asap.

Di tengah kondisi tersebut, Dinkes Kotim terus mengingatkan masyarakat untuk tidak menganggap remeh kabut asap.

Partikel yang terbawa bersama asap dapat masuk ke saluran pernapasan, terutama ketika masyarakat beraktivitas dalam waktu lama di luar ruangan.

Karena itu, masyarakat diminta mengurangi kegiatan di luar rumah apabila kabut asap semakin pekat.

Jika aktivitas di luar ruangan tidak dapat dihindari, warga diimbau menggunakan masker dengan benar sebagai salah satu cara mengurangi paparan partikel berbahaya.

Bagi petugas kesehatan, pembagian masker bukan sekadar menyerahkan perlengkapan pelindung kepada warga.

Di setiap persimpangan yang diselimuti asap, masker yang berpindah dari tangan petugas ke tangan masyarakat menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan di tengah karhutla membutuhkan kewaspadaan bersama.

Selama kabut asap masih datang dan pergi, perlindungan sederhana seperti mengenakan masker menjadi langkah kecil yang dapat membantu masyarakat tetap menjalani aktivitas dengan risiko yang lebih rendah.