BORNEONEWS, Istanbul – Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kritik terhadap strategi diplomasi Washington di tengah upaya mencapai kesepakatan terkait Selat Hormuz.
Ghalibaf menyebut pendekatan Amerika Serikat sebagai “diplomasi sandiwara” karena menurutnya ancaman serangan militer kerap disampaikan sebelum akhirnya dibatalkan dan digantikan dengan ajakan kembali berunding.
“Serangan besar-besaran akan datang, tunggu, lupakan saja, mereka ingin bernegosiasi. Itulah diplomasi sandiwara yang berulang-ulang,” tulis Ghalibaf melalui platform X, Jumat, 7 Agustus 2026.
Ia juga mengkritik penggunaan tekanan, ancaman serta informasi yang menurutnya tidak sesuai fakta dalam pendekatan Washington terhadap Teheran.
Ghalibaf menilai strategi tersebut tidak efektif untuk menyelesaikan ketegangan antara kedua negara.
“Akui saja faktanya dan penuhi komitmen Anda. Kami tidak perlu sandiwara lagi,” ujarnya.
Pernyataan tersebut muncul ketika Amerika Serikat dan Iran masih berupaya mencari jalan keluar atas ketegangan yang terjadi di kawasan Teluk, khususnya menyangkut keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya mengatakan dirinya terlibat dalam proses negosiasi untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Trump juga mengisyaratkan adanya kemungkinan kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat.
Selat Hormuz memiliki posisi penting dalam perdagangan global karena menjadi salah satu jalur utama pengiriman minyak dan energi dari kawasan Teluk ke pasar internasional.
Ketegangan antara Washington dan Teheran meningkat dalam beberapa pekan terakhir setelah kedua pihak saling melancarkan serangan militer.
Amerika Serikat menargetkan sejumlah fasilitas yang disebut berkaitan dengan Korps Garda Revolusi Iran atau IRGC.
Iran kemudian melakukan serangan balasan terhadap fasilitas militer Amerika Serikat di sejumlah negara kawasan Teluk.
Eskalasi tersebut terjadi meski kedua negara sebelumnya telah menandatangani nota kesepahaman pada Juni 2026 serta memulai pembicaraan untuk mencapai kesepakatan lebih permanen.
Proses negosiasi kemudian menghadapi hambatan akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan serta pengaturan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Ketegangan semakin meningkat setelah Trump sebelumnya mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran, termasuk menyasar infrastruktur strategis.
Namun rencana tersebut kemudian tidak dilanjutkan setelah Iran disebut bersedia kembali ke meja perundingan.
Di tengah tarik-menarik antara ancaman militer dan jalur diplomasi tersebut, Iran meminta Amerika Serikat memenuhi komitmen yang telah disepakati apabila ingin pembicaraan kedua negara kembali menghasilkan kemajuan.
ANTARA









