BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, tidak hanya mengancam kawasan hutan dan berdampak pada aktivitas manusia, tetapi juga memaksa satwa liar keluar dari habitatnya hingga menimbulkan dampak berantai terhadap sektor pertanian.
Komandan BKSDA Pos Sampit, Muriansyah mengatakan, empat hari lalu Ketua RW Desa Bapanggang Raya, Amrullah, melaporkan adanya seekor orangutan yang memasuki kebun atau ladang milik warga.
"Namun saat di cek kembali, orangutan sudah tidak terlihat lagi. Perkiraan kami hanya melintas," ujarnya, Jumat, 7 Agustus 2026.
Berdasarkan keterangan warga, orangutan yang terlihat berjumlah satu individu dengan ukuran tubuh besar.
Setelah berkoordinasi dengan Manggala Agni, Muriansyah memperoleh informasi bahwa pada waktu yang sama memang terjadi kebakaran hutan dan lahan di wilayah Desa Bapanggang Raya dan Bapeang.
"Diduga kuat kebakaran hutan dan lahan itulah yang menyebabkan orangutan masuk ke kebun warga untuk menghindari api dan asap," katanya.
Menurutnya, kondisi serupa hampir selalu terjadi setiap kali terjadi karhutla. Satwa liar akan mencari lokasi yang lebih aman dengan berpindah ke kebun, ladang hingga mendekati permukiman warga.
"Kalau ada warga yang melihat beruang madu, orangutan atau satwa liar lainnya masuk ke kebun maupun ladang, segera laporkan kepada petugas. Jangan berusaha menangkap, melukai, apalagi membunuh satwa tersebut," tegasnya.
Tidak hanya orangutan, Muriansyah menyebut beruang madu juga kerap memasuki kebun dan ladang warga ketika terjadi kebakaran hutan. Menurutnya, satwa-satwa tersebut secara naluriah berusaha menghindari kobaran api dan kepulan asap.
Ia menjelaskan, kebun warga menjadi lokasi tujuan karena relatif aman dari kebakaran. Selain itu, di kawasan tersebut tersedia sumber makanan seperti nanas maupun buah lainnya, serta sumber air dari sumur dan parit yang masih menyimpan air saat musim kemarau.
"Kebun warga biasanya dijaga saat musim kebakaran sehingga lebih aman. Di sana juga ada sumber pakan dan sumber air, sehingga satwa liar memilih menuju kawasan tersebut," jelasnya.
Selain memaksa satwa besar keluar dari habitatnya, karhutla juga menyebabkan kematian reptil. Muriansyah mengungkapkan, sekitar sepekan hingga sepuluh hari lalu ditemukan dua ular mati terpanggang di kawasan Jalan Lingkar, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.
Menurutnya, dua kasus tersebut baru yang diketahui karena sempat didokumentasikan. Ia menduga jumlah ular yang mati akibat kebakaran jauh lebih banyak.
"Kalau ular tidak bisa bergerak secepat orangutan atau beruang. Banyak yang bersarang di dalam tanah sehingga saat api membakar lahan, kemungkinan mereka mati di dalam sarang dan tidak sempat keluar," tambahnya.
Berkurangnya populasi ular, lanjutnya, akan memicu peningkatan populasi tikus sebagai mangsa alami ular.
"Kondisi ini tentu berdampak terhadap pertanian karena tikus akan semakin banyak merusak tanaman, termasuk di perkebunan kelapa sawit," kata Muriansyah.
Muriansyah mengatakan, dampak karhutla tidak berhenti pada kematian satwa liar. Asap kebakaran juga membunuh serangga-serangga penyerbuk yang berperan penting dalam proses pembentukan buah.
Menurutnya, penyerbukan tanaman tidak hanya dibantu angin, tetapi lebih dominan dilakukan oleh serangga kecil. Ketika serangga penyerbuk mati akibat asap, produksi buah berbagai tanaman ikut menurun.
Ia menyebut berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan pihak perkebunan kelapa sawit, produksi buah sawit dapat menurun hingga 50 sampai 70 persen setelah terjadi kebakaran besar.
"Yang lebih dikhawatirkan sebenarnya bukan hanya apinya, tetapi asapnya. Asap membunuh serangga penyerbuk sehingga hasil buah ikut berkurang," ucapnya.
Dampak tersebut tidak hanya terjadi pada kelapa sawit, tetapi juga tanaman buah lain seperti nangka, buah naga, jambu kristal, maupun berbagai buah hutan yang proses penyerbukannya sangat bergantung pada serangga.
Menurutnya, berdasarkan hasil penelitian tersebut, pemulihan populasi serangga penyerbuk membutuhkan waktu yang cukup lama sehingga dampak terhadap produksi buah bisa berlangsung hingga sekitar dua tahun.
Muriansyah mengingatkan masyarakat agar tidak membakar meskipun hanya dalam skala kecil. Ia menjelaskan, api yang tampak padam di permukaan belum tentu benar-benar mati, terutama di kawasan gambut yang banyak terdapat di wilayah Kotim.
"Kadang warga mengira hanya membakar sedikit lalu disiram air dan ditinggalkan. Padahal selama masih ada asap berarti masih ada api di bawah permukaan gambut. Api bisa terus menjalar dan akhirnya sulit dipadamkan," katanya.
Berdasarkan pengalamannya yang pernah bertugas di Manggala Agni, seringkali kebakaran besar bermula dari pembakaran kecil saat membersihkan lahan, namun kemudian meluas karena api merambat di bawah permukaan gambut. Karena itu, ia kembali mengimbau masyarakat agar menghentikan seluruh aktivitas pembakaran lahan.
"Intinya jangan membakar, walaupun dianggap sedikit," pungkasnya. (DEWI PATMALASARI/H)









