BORNEONEWS, Sampit – Kabut asap yang menurunkan kualitas udara dan membatasi jarak pandang di Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), belum menghentikan aktivitas warga pada Sabtu pagi, 8 Agustus 2026. Sejumlah masyarakat tetap berolahraga, berdagang hingga menggunakan jasa penyeberangan Sungai Mentaya meski kondisi udara berada pada kategori tidak sehat.
Pantauan di sejumlah ruas jalan Sampit, seperti Jalan Pemuda, Jalan Tjilik Riwut, Jalan Kapten Mulyono, kawasan Bundaran Polres, Jalan MT Haryono hingga Jalan Ahmad Yani, menunjukkan aktivitas masyarakat tetap berlangsung seperti biasa.
Sejumlah warga terlihat menjalankan aktivitas olahraga pagi, mulai dari berjalan kaki, berlari hingga bersepeda. Aktivitas tersebut tetap dilakukan meski kabut asap membuat jarak pandang di sejumlah wilayah menurun.
Di kawasan Taman Kota Sampit, aktivitas masyarakat juga masih terlihat. Sejumlah pedagang makanan tetap membuka lapak sejak pagi untuk melayani warga yang beraktivitas.
Sebagian warga maupun pedagang tampak sudah menggunakan masker untuk melindungi hidung dan mulut dari paparan asap. Namun, masih terlihat pula masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan tanpa menggunakan masker.
Selain itu, aktivitas masyarakat juga masih berlangsung di dermaga penyeberangan feri Sampit-Seranau. Kapal tetap beroperasi mengangkut penumpang melintasi Sungai Mentaya meski kawasan perairan terlihat diselimuti kabut asap.
Sebelumnya diberitakan, kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan jarak pandang di sejumlah wilayah Kotim hanya berkisar 300-400 meter pada Sabtu pagi.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kotim Multazam mengatakan kondisi tersebut masih dipantau dan diharapkan membaik dalam beberapa jam berikutnya.
"Menyampaikan situasi pagi ini jarak pandang 300-400 meter. Mudah-mudahan dalam dua jam ke depan, kondisi ini menjadi lebih baik," kata Multazam, Sabtu, 8 Agustus 2026.
Selain jarak pandang yang terbatas, konsentrasi PM2.5 juga berada pada kondisi yang perlu diwaspadai. BPBD Kotim meminta masyarakat menyesuaikan aktivitas, khususnya di luar ruangan.
"Kondisi PM2.5 dalam keadaan tidak sehat. Mohon untuk penyesuaian dalam beraktivitas di luar ruang, terutama untuk aktivitas kelompok rentan," ujarnya.
Berdasarkan pemantauan alat Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang terpasang di dua lokasi, terjadi peningkatan konsentrasi PM2.5 sejak malam sebelumnya.
Alat pemantau di Jalan Jenderal Sudirman Km 7 Sampit pada pukul 21.11 WIB mencatat angka PM2.5 sebesar 300,4. Sementara alat pemantau di wilayah Baamang mencatat angka 81,1.
BPBD mengingatkan bahwa pada rentang ISPU 125-225, risiko efek kesehatan meningkat bagi semua orang yang terpapar selama 24 jam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian khusus bagi masyarakat yang memiliki aktivitas rutin di luar ruangan. Kelompok rentan juga diminta mengurangi paparan asap dan menyesuaikan aktivitas ketika kualitas udara memburuk.
Multazam mengingatkan masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar rumah agar menggunakan masker pelindung hidung dan mulut.
"Penggunaan masker pelindung hidung dan mulut menjadi keharusan bila dipakai saat beraktivitas luar ruang," tegasnya.
Selain penggunaan masker, masyarakat diimbau mempertimbangkan kembali aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Pengendara juga diminta lebih berhati-hati karena jarak pandang yang hanya 300-400 meter dapat mengurangi visibilitas. (DEWI PATMALASARI/y)









