BORNEONEWS, Palangka Raya - Komitmen PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk atau SSMS terhadap keberlanjutan lingkungan diwujudkan melalui dukungan terhadap konservasi orangutan di Pulau Salat, Kalimantan Tengah.
Chief Sustainability Officer, PT Sawit Sumbermas Sarana atau SSMS Tbk, Henky Satrio Wibowo mengatakan konservasi orangutan merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menjaga keanekaragaman hayati di sekitar wilayah operasional.
"Konservasi bukan hanya tentang melindungi satwa, tetapi juga menjaga ekosistem dan memastikan keberadaan habitat yang mendukung kehidupan satwa tersebut. Karena itu, kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi sangat penting," ujar Henky kepada Borneonews pada Sabtu, 8 Agustus 2026.
Berdasarkan materi perusahaan, kawasan konservasi Pulau Salat yang masuk dalam program Remediation and Compensation Plan atau RaCP SSMS, PT KSA, dan PT MMS mencakup sejumlah kawasan, yakni Pulau Nusa 2 seluas 1.191 hektare, Pulau Barasak 120 hektare, Pulau Badak Besar 123 hektare, Pulau Badak Kecil 104 hektare, dan Pulau Nusa 1 596 hektare.
Total luasan kawasan yang tercantum dalam materi tersebut mencapai 2.134 hektare. Pada data yang sama disebutkan jumlah populasi orangutan dari 2016 hingga 2026 mencapai 141 individu, dengan 67 individu telah dilepasliarkan ke taman nasional, 41 individu berada di Pulau Salat, dan 10 individu berstatus unreleasable.
Henky menilai keberadaan Pulau Salat menjadi bagian dari upaya jangka panjang dalam mendukung proses rehabilitasi dan pra-pelepasliaran orangutan. Proses tersebut membutuhkan kolaborasi antara perusahaan, lembaga konservasi, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.
"Keberhasilan konservasi membutuhkan kerja sama jangka panjang. Perusahaan tidak dapat berjalan sendiri. Karena itu, kolaborasi dengan lembaga konservasi dan pemangku kepentingan lainnya menjadi kunci agar program dapat memberikan dampak yang berkelanjutan," katanya.
Pulau Salat sendiri telah menjadi lokasi penting dalam program konservasi orangutan yang melibatkan SSMS dan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF). RSPO sebelumnya menyebut kawasan tersebut digunakan sebagai lokasi rehabilitasi dan pra-pelepasliaran orangutan sebagai bagian dari program RaCP. (TESTI PRISCILLA/y)









