KUALA KURUN –

BORNEONEWS, Kuala Kurun - Bupati Gunung Mas Jaya S Monong memberikan sejumlah instruksi dalam pelaksanaan intervensi serentak percepatan pencegahan dan penurunan stunting di wilayah setempat.

"Beberapa hal penting yang menjadi perhatian dan komitmen bersama pertama yakni lakukan pencatatan dan pelaporan hasil kegiatan penimbangan dan pengukuran wajib mencapai target 100 persen sasaran riil di lapangan,"ujar Jaya, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Jaya menegaskan bahwa data harus benar, akurat, dan diinput ke aplikasi pada hari yang sama. Kecuali untuk keluarga yang bekerja di kebun atau ladang dan jauh dari tempat tinggalnya agar dapat dilakukan penjangkauan (sweeping) baik oleh kader posyandu dan nakes dan stake holder terkait.

Lalu, Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan  Stunting Kecamatan agar saling berkoordinasi aktif, mulai dari camat, lurah dan kepala desa, kepala puskesmas, hingga Penyuluh Keluarga Berencana di lapangan. 

Koordinasi lintas sektor di tingkat kecamatan adalah kunci keberhasilan, karena stunting tidak dapat diselesaikan satu instansi dalam hal ini puskesmas atau penyuluh keluarga berencana. 

"Untuk itu, camat sekaligus ketua TP3S Kecamatan harus lebih banyak berperan dalam melaksanakan aksi konvergensi percepatan pencegahan dan penurunan stunting di wilayahnya secara maksimal," ucap Jaya.

Jaya juga mengatakan bahwa adanya efisiensi anggaran bukan alasan menurunkan kualitas intervensi, melainkan tantangan bekerja lebih cerdas, menggalang gotong royong masyarakat dan mengoptimalkan anggaran yang tersedia.

Lebih lanjut, tersedianya alat antropometri terstandar di seluruh posyandu, serta meningkatnya keterampilan kader posyandu dalam pengukuran antropometri terstandar agar seluruh kader posyandu terampil melakukan pengukuran serta penyuluhan, agar hasilnya mencerminkan kondisi gizi anak yang sesungguhnya.

"Selain itu, untuk ibu hamil dan balita yang bermasalah gizi, agar segera mendapatkan intervensi perbaikan gizi dan pendampingan disertai promosi dan edukasi pemberia makan bayi dan anak sesua standar Kementrian Kesehatan," tukasnya. 

Jaya menegaskan bahwa stunting bukan soal persoalan tinggi badan anak, melainkan cerminan kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan Kabupaten Gunung Mas.

Anak yang mengalami stunting berisiko mengalami hambatan perkembangan kognitif, rentan sakit, dan kelak berpotens memiliki produktvitas yang rendah. (RISKA YULYANA/H)