SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) menunjukkan peningkatan tajam pada awal Agustus 2026.

Hingga 8 Agustus, jumlah hotspot yang terdeteksi mencapai 740 titik, menjadi angka tertinggi dalam satu bulan sepanjang 2026.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim, Multazam, mengatakan lonjakan hotspot tersebut menjadi perhatian serius karena terjadi hanya dalam sepekan pertama Agustus.

"Agustus sampai tanggal 8 ini sudah tercatat 740 hotspot. Ini menjadi yang tertinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya sepanjang 2026," kata Multazam, Minggu, 9 Agustus 2026.

Berdasarkan rekap perkembangan karhutla Kotim, jumlah hotspot pada Januari tercatat 121 titik, Februari dua titik, Maret 39 titik, April 22 titik, Mei sembilan titik, dan Juni 34 titik.

Memasuki Juli, jumlah hotspot meningkat menjadi 290 titik. Namun, angka tersebut kembali melonjak pada awal Agustus dengan 740 titik hanya sampai 8 Agustus.

"Kalau kita lihat perkembangannya, memang terjadi peningkatan cukup signifikan ketika memasuki Juli dan semakin tinggi pada awal Agustus. Kondisi ini harus menjadi perhatian kita bersama," ujarnya.

Dengan tambahan hotspot tersebut, total titik panas yang terdeteksi di Kotim sepanjang 2026 mencapai 1.257 titik. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan total hotspot sepanjang 2025 yang tercatat sebanyak 453 titik.

Selain peningkatan hotspot, BPBD Kotim mencatat sebanyak 203 kejadian karhutla telah mendapatkan penanganan dari Januari hingga 8 Agustus 2026. Total luas lahan yang terbakar mencapai 373,8788 hektare.

Kecamatan Mentawa Baru Ketapang menjadi wilayah dengan luas lahan terbakar terbesar, yakni 92,0095 hektare atau 24,61 persen dari total luasan. Selanjutnya Kecamatan Baamang dengan 85,6763 hektare atau 22,92 persen, kemudian Pulau Hanaut dengan 82,65 hektare atau 22,11 persen.

"Untuk luasan lahan yang terbakar, Mentawa Baru Ketapang menjadi yang paling tinggi, kemudian Baamang dan Pulau Hanaut," imbuhnya.

Sementara itu, Kecamatan Parenggean tercatat memiliki luas lahan terbakar 41,5 hektare atau 11,10 persen. Kemudian Teluk Sampit 13,3 hektare, Telawang 13,05 hektare, Mentaya Hilir Utara 10,808 hektare, dan Mentaya Hilir Selatan 8 hektare.

Wilayah lainnya meliputi Seranau dengan 3,5 hektare, Cempaga Hulu dua hektare, Mentaya Hulu 1,45 hektare, serta Cempaga satu hektare.

Sedangkan Antang Kalang, Telaga Antang, Bukit Santuai dan Tualan Hulu belum mencatat adanya luasan lahan terbakar dalam data penanganan hingga 8 Agustus.

Dari akumulasi hotspot sepanjang 2026, Kecamatan Kota Besi menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 241 hotspot.

Kemudian Mentawa Baru Ketapang 152 hotspot, Mentaya Hilir Utara 138 hotspot, Seranau 135 hotspot, Antang Kalang 101 hotspot, dan Teluk Sampit 73 hotspot.

Berikutnya Baamang mencatat 69 hotspot, Telaga Antang 60 hotspot, Mentaya Hulu 50 hotspot, Parenggean 46 hotspot, Telawang 45 hotspot, Bukit Santuai 47 hotspot, Cempaga 34 hotspot, Cempaga Hulu 29 hotspot, Tualan Hulu 22 hotspot, Pulau Hanaut 14 hotspot, dan Mentaya Hilir Selatan satu hotspot.

Multazam mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama pembakaran lahan secara sembarangan.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan. Kalau melihat adanya titik api, segera informasikan kepada petugas agar bisa ditangani secepat mungkin sebelum meluas," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/R)