BORNEONEWS, Batam – TNI Angkatan Laut akan memperkuat pengamanan di wilayah perbatasan Indonesia, termasuk Kepulauan Riau, untuk mencegah penyelundupan narkotika dan berbagai barang ilegal melalui jalur laut.
Panglima Komando Armada RI Laksamana Madya TNI Denih Hendrata mengatakan, karakter Indonesia sebagai negara kepulauan dengan banyak jalur masuk melalui laut membuat kawasan perbatasan cukup rentan dimanfaatkan untuk aktivitas ilegal.
"Negara ini negara kepulauan, banyak akses yang bisa dimanfaatkan. Jadi, penebalan dari kekuatan TNI AL, BNN (Badan Narkotika Nasional), Bea Cukai, intelijen, dan operasional itu harus," ujar Denih di Batam, Minggu, 9 Agustus 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah konferensi pers pengungkapan penyelundupan ketamin dalam jumlah besar di perairan Kepulauan Riau pada Kamis, 6 Agustus 2026.
Denih mengatakan penguatan pengamanan menjadi bagian dari upaya pemerintah memberantas peredaran narkotika serta praktik penyelundupan yang dapat merugikan negara.
"Tentu ke depan kita akan tebalkan lagi," tegasnya.
Menurut Denih, pengawasan wilayah laut dilakukan melalui patroli rutin berdasarkan sektor yang telah ditentukan.
Selain mengerahkan unsur patroli di lapangan, TNI AL turut memanfaatkan teknologi untuk memantau pergerakan kapal dan mendeteksi aktivitas yang dianggap tidak wajar.
"Memang pada hari itu (Kamis, 6/8) kami sedang berpatroli di laut, rutin berdasarkan sektor. Berdasarkan informasi, ada anomali yang bisa dipantau di KRI atau pusat komando. Jadi, kombinasi penggunaan radar dan aplikasi ditemukan anomali yang tidak jelas, dark ship," katanya.
Istilah dark ship merujuk pada kapal yang berupaya menyembunyikan atau menyamarkan identitas maupun keberadaannya sehingga sulit terdeteksi dalam sistem pemantauan.
Denih menjelaskan, modus penyelundupan melalui laut dapat dilakukan dengan berbagai cara, termasuk menggunakan pola pelayaran yang tidak sesuai dengan tujuan perjalanan kapal.
Salah satu contohnya ditemukan pada MV King Sun yang sebelumnya diamankan di perairan Kepulauan Riau karena menunjukkan pergerakan mencurigakan.
"Tujuan kapalnya ke luar Indonesia, namun modusnya mutar-mutar dan masuk ke teritorial Indonesia. Kalau dilihat, ini tidak jelas. Namun, kalau kapal sudah masuk teritorial, itu sudah masuk ke penegakan hukum kita. Maka kami tindaklanjuti," ujarnya.
Terkait kemungkinan kapal menggunakan perubahan nama atau identitas untuk menghindari pemantauan, Denih mengatakan hal tersebut masih dalam proses pendalaman.
Ke depan, pengamanan wilayah perbatasan laut akan terus diperkuat melalui kolaborasi TNI AL, BNN, Bea Cukai, unsur intelijen serta lembaga penegak hukum lainnya.
Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah wilayah perairan Indonesia dimanfaatkan sebagai jalur masuk maupun tempat transit narkotika dan barang ilegal.
ANTARA









