MUARA TEWEH –

BORNEONEWS, Muara Teweh – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Barito Utara bersama Masyarakat Peduli Api (MPA) dan sejumlah unsur terkait melakukan penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di beberapa wilayah.

Lokasi penanganan tersebar di Desa Hajak Simpang Batu Bara, Kecamatan Teweh Baru, Jalan Moek Lintas Lemo-Bangdep, Desa Trahean serta Desa Trinsing, Kecamatan Teweh Selatan.

Kepala BPBD Kabupaten Barito Utara HM Ikhsan melalui Kabid Kedaruratan dan Logistik Rizali Hadi mengatakan, personel gabungan langsung bergerak setelah menerima laporan mengenai kemunculan titik api.

“Tim BPBD bersama MPA dan unsur terkait langsung melakukan pemadaman setelah menerima laporan adanya kebakaran lahan. Penanganan dilakukan untuk mencegah api meluas dan mengurangi dampak yang ditimbulkan,” kata Rizali, Minggu, 9 Agustus 2026.

Di Desa Hajak Simpang Batu Bara, tim menerima laporan kebakaran sekitar pukul 20.32 WIB, Sabtu, 8 Agustus 2026. Personel piket TRC dan Pusdalops-PB BPBD kemudian bergerak menuju lokasi sekitar pukul 21.01 WIB.

Setibanya di lokasi, petugas menemukan beberapa titik api yang masih menyala dan langsung melakukan pemadaman menggunakan selang nozzle serta mobil water supply BPBD. Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 22.28 WIB.

Penanganan melibatkan TRC-Pusdalops, MPA Hajak dan PT HM dengan dukungan satu unit mobil water supply BPBD, satu mobil personel BPBD, satu mobil water tank PT HM serta dua unit sepeda motor CRF.

Luas lahan yang terbakar di lokasi tersebut diperkirakan sekitar 0,56 hektare. Karakter kebakaran merupakan kebakaran permukaan pada tanah mineral dengan vegetasi berupa tumpukan pepohonan, dedaunan dan semak belukar.

Tim BPBD juga menangani kebakaran di Jalan Moek Lintas Lemo-Bangdep. Personel bergerak sekitar pukul 19.21 WIB dan menemukan sejumlah titik api yang masih menyala.

Pemadaman dilakukan menggunakan jet shooter dan peralatan pendukung milik BPBD. Sekitar pukul 20.40 WIB, kondisi di lokasi dinyatakan aman dan terkendali. Luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai 0,5 hektare.

Setelah kembali ke posko, sekitar pukul 21.01 WIB tim kembali menerima laporan adanya titik api di Desa Trahean. 

Petugas kemudian bergerak bersama MPA Trahean dengan dukungan dua unit mobil water supply BPBD, tiga mobil personel BPBD serta satu mobil water supply MPA Trahean. Proses pemadaman berlangsung hingga sekitar pukul 02.05 WIB.

Namun, api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan akibat keterbatasan akses dan kondisi asap pekat yang membuat penanganan pada malam hari dinilai berisiko.

Pemadaman selanjutnya dijadwalkan dilanjutkan pada hari berikutnya. Luas lahan terdampak kebakaran di Desa Trahean diperkirakan mencapai 2,3 hektare dengan karakter kebakaran permukaan pada tanah mineral dan vegetasi berupa pepohonan, dedaunan serta semak belukar.

Selain itu, BPBD juga melakukan pemadaman lanjutan di Desa Trinsing, Kecamatan Teweh Selatan, melalui Jalan Hauling PT BIMA.

Tim bergerak sejak pukul 09.37 WIB dan mendapati sejumlah titik api yang masih aktif. Pemadaman dilakukan menggunakan selang nozzle serta peralatan BPBD.

Hingga pukul 16.45 WIB, kondisi di lokasi dinyatakan aman dan terkendali. Tim kemudian kembali ke posko sekitar pukul 17.00 WIB.

Penanganan di Trinsing melibatkan TRC-Pusdalops BPBD, Manggala Agni dan MPA Trahean dengan dukungan dua mobil patroli BPBD, satu mobil personel dan satu mobil Hilux BPBD. Luas area terdampak di lokasi tersebut diperkirakan sekitar 1,76 hektare.

Namun, BPBD menyebut tidak seluruh kawasan terbakar karena api ditemukan dalam bentuk titik-titik atau spot. Berdasarkan rincian luasan di empat lokasi tersebut, total lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan sekitar 5,12 hektare.

Rizali menegaskan BPBD bersama seluruh unsur terkait akan terus meningkatkan pemantauan dan penanganan di kawasan rawan karhutla di Barito Utara.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan sembarangan dan segera melaporkan apabila melihat adanya titik api. Kecepatan informasi sangat membantu tim dalam melakukan penanganan agar api tidak meluas,” pungkasnya. (RAMADHANI/j)