KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Kesadaran sebagian masyarakat Kuala Kapuas dalam menjaga dan merawat fasilitas publik menjadi sorotan. Fasilitas toilet umum di kawasan Taman Adipura, Jalan Tambun Bungai, Kuala Kapuas, ditemukan dalam kondisi rusak dan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya, meski kawasan tersebut baru saja selesai ditata ulang oleh pemerintah daerah pada awal tahun ini.

Taman Adipura sebenarnya dirancang sebagai ruang terbuka publik yang mengintegrasikan estetika kota dan area rekreasi warga. Selain penataan lanskap, pemerintah setempat juga melengkapinya dengan fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) umum. Keberadaan fasilitas penunjang ini ditujukan untuk memberi kenyamanan bagi pengunjung maupun masyarakat yang membutuhkan sarana sanitasi darurat di ruang publik.

Berdasarkan pantauan Borneonews di lokasi pada Minggu, 9 Agustus 2026, dua unit toilet umum yang ada di dalam kompleks taman tersebut mengalami kerusakan serius. Bagian semprotan air (jet shower) pada bilik toilet tampak terlepas dari selangnya, sementara gagang penekan air patah dan tersisa di atas tangki kloset. Kerusakan ini membuat aliran air tidak dapat digunakan secara normal oleh para pengunjung.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada operasional fasilitas kebersihan di area taman. Akibat kerusakan sarana jet shower pada kedua bilik toilet tersebut, masyarakat yang hendak menggunakan fasilitas MCK terpaksa mengangkut air secara manual menggunakan ember dari luar bilik. Hal ini tentu mengurangi kenyamanan serta standar higienitas ruang publik yang baru direvitalisasi tersebut.

Seorang pedagang kopi yang sehari-hari beraktivitas di sekitar Taman Adipura menuturkan, kerusakan fasilitas sanitasi tersebut sebenarnya telah terjadi sejak beberapa bulan lalu. Menurut dia, sarana toilet mulai rusak tidak lama setelah dirinya berjualan di area itu sekitar bulan April, atau hanya berselang sekitar tiga bulan pascapenataan ulang taman diselesaikan oleh pemerintah daerah.

"Awalnya kerusakan terjadi pada bilik toilet sebelah kiri, kemudian tak lama berselang diikuti kerusakan pada bilik sebelah kanan," ujar pedagang tersebut saat ditemui di lokasi, Minggu malam.

Ia menyayangkan ketidakpedulian oknum pengguna yang tidak menjaga sarana publik yang telah dibangun menggunakan dana daerah tersebut.

Kerusakan sarana umum yang terjadi dalam waktu relatif singkat ini mencerminkan masih rendahnya rasa memiliki (sense of belonging) serta kebiasaan merawat fasilitas bersama di tengah masyarakat. Pembangunan infrastruktur perkotaan yang estetis kerap tidak diimbangi dengan perilaku penggunaan yang bijak.

Guna mengantisipasi kerusakan yang lebih parah di masa mendatang, diperlukan pembenahan ganda dari sisi pengawasan dan edukasi publik. Selain pemerintah daerah perlu meningkatkan pemeliharaan berkala serta pengetatan pengawasan di area taman, masyarakat pengguna juga dituntut memiliki kesadaran kolektif untuk menjaga kelestarian setiap fasilitas umum demi kepentingan bersama. (SABRIANOOR/j)