BORNEONEWS, Tamiang Layang – Kabupaten Barito Timur menghadapi ancaman kekeringan yang perlu diwaspadai seiring musim kemarau 2026 yang diprediksi berlangsung lebih panjang dan lebih kering dari kondisi normal. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan durasi kemarau di wilayah ini mencapai 16–18 dasarian atau sekitar 160–180 hari.
Kepala Stasiun Meteorologi Sanggu Eko Bambang Minarto, yang mewakili BMKG Palangka Raya, mengatakan durasi tersebut lebih panjang dibandingkan kondisi normal sedikitnya tiga dasarian atau sekitar 30 hari. Kondisi itu berpotensi meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air di Barito Timur.
"Secara umum, musim kemarau 2026 di Indonesia diprediksi bersifat bawah normal atau lebih kering dari biasanya. Begitu juga yang terjadi di wilayah Kabupaten Barito Timur," ungkap Eko, Minggu, 9 Agustus 2026.
Menurut dia, kondisi kemarau yang lebih kering tersebut dipengaruhi fenomena El Niño dengan intensitas kuat hingga sangat kuat. Fenomena tersebut mulai aktif pada periode Maret-April-Mei 2026 dan diprediksi mencapai puncaknya pada September-Oktober-November 2026.
"El-Nino dapat mengurangi intensitas curah hujan dan memperpanjang durasi musim kemarau," jelas Eko.
Dampaknya, Barito Timur diperkirakan menghadapi periode dengan curah hujan rendah dalam beberapa bulan ke depan. Berdasarkan prediksi BMKG untuk Agustus, September dan Oktober 2026, curah hujan di wilayah Barito Timur diprakirakan rendah sepanjang periode tersebut dengan sifat hujan bawah normal atau lebih kering daripada kondisi normalnya.
Kondisi ini membuat risiko kekeringan meteorologis di Barito Timur semakin perlu diperhatikan. BMKG menempatkan wilayah tersebut dalam kategori waspada pada peta peringatan dini kerentanan kekeringan meteorologis.
Yang lebih mengkhawatirkan, hasil pemantauan dan analisis BMKG menunjukkan ketersediaan air bagi tanaman di Barito Timur diprediksi mengalami defisit atau penurunan pada Agustus hingga Oktober 2026.
"Berdasarkan hasil pantauan dan analisis prediksi tingkat ketersediaan air bagi tanaman bulan Agustus hingga Oktober 2026, dapat diketahui bahwa wilayah Barito Timur mengalami defisit atau penurunan ketersediaan air bagi tanaman. Hal ini perlu menjadi perhatian dan diwaspadai," ujar Eko.
Ancaman kekeringan juga tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan. Dengan musim kemarau yang lebih panjang, kebutuhan masyarakat terhadap cadangan air berpotensi semakin besar. Karena itu, BMKG mendorong masyarakat mulai mengelola penggunaan air secara efisien dan menyiapkan cadangan air.
"Masyarakat dapat mengelola sumber daya air secara efisien melalui pola hemat air dan penyimpanan cadangan air," kata Eko.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang perlu mengantisipasi kondisi tersebut. BMKG menyarankan petani memilih varietas tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, tahan terhadap kekeringan dan memiliki siklus tanam lebih pendek.
Petani juga disarankan mengoptimalkan penggunaan air irigasi, sumur resapan dan kolam retensi selama musim kemarau. Pemanenan air hujan pada periode transisi juga dapat dimanfaatkan untuk menyimpan cadangan air.
Selain itu, BMKG mengingatkan petani menyesuaikan jadwal tanam agar tanaman tidak memasuki fase kritis ketika kondisi kekeringan mencapai puncaknya. Pemantauan dini terhadap hama dan penyakit juga perlu diperkuat terutama pada awal dan puncak musim kemarau.
Puncak musim kemarau Barito Timur sendiri diperkirakan terjadi pada September 2026. BMKG menentukan puncak musim kemarau berdasarkan periode dengan curah hujan paling rendah selama tiga dasarian berturut-turut.
Kemarau yang lebih panjang juga diperkirakan berpengaruh terhadap datangnya musim hujan. Eko mengatakan musim hujan berpotensi datang lebih mundur dibandingkan kondisi normal karena durasi kemarau Barito Timur diprediksi lebih panjang sekitar 30 hari.
"Hal ini menunjukkan bahwa musim hujan akan datang lebih mundur daripada normalnya," ujarnya.
BMKG bahkan tidak menutup kemungkinan terjadinya kekeringan ekstrem di Barito Timur. Eko mengatakan potensi tersebut tetap ada dengan mempertimbangkan dinamika atmosfer saat ini. Karena itu, pemerintah daerah diharapkan menggunakan informasi BMKG sebagai dasar dalam menyusun langkah antisipasi dan memperkuat kolaborasi antar-stakeholder.
Di tengah ancaman kekeringan, masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. BMKG mengingatkan warga menghemat air, tidak membakar sampah maupun membuka lahan dengan cara membakar terutama di kawasan gambut dan lahan yang mudah terbakar.
"Selalu pantau informasi dari BMKG terutama terkait peringatan dini cuaca maupun iklim," pesan Eko.
Dengan kemarau yang diprediksi berlangsung hingga sekitar 30 hari lebih panjang dari normal, curah hujan rendah hingga Oktober serta potensi defisit ketersediaan air bagi tanaman, BMKG meminta seluruh pihak di Barito Timur meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah antisipasi sejak dini. (AGUSTINUS BOLE MALO/j)









