BORNEONEWS, Sampit – Warga Perumahan Graha Pramuka, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), rela mengeluarkan dana pribadi sekitar Rp5 juta untuk merakit alat pemadam kebakaran sederhana sebagai langkah antisipasi menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) selama musim kemarau.
Peralatan itu dibuat secara swadaya menggunakan mesin pompa air (alkon), drum penampung air, serta selang bertekanan tinggi. Alat tersebut disiapkan untuk menangani titik api sejak dini sebelum petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi.
Salah satu warga bernama Anwar, mengatakan inisiatif tersebut lahir dari pengalaman warga yang hampir setiap tahun menghadapi karhutla di sekitar kawasan permukiman.
Perumahan Graha Pramuka termasuk wilayah yang cukup rawan karena berbatasan dengan lahan kosong dan semak belukar yang mudah terbakar saat musim kemarau.
"Alat ini kami siapkan sebagai cadangan untuk pemadaman kebakaran kalau petugas Damkar belum sampai ke lokasi," katanya, Senin, 10 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, seluruh komponen dirakit secara mandiri menggunakan peralatan yang mudah diperoleh di pasaran. Meski sederhana, alat tersebut dinilai cukup efektif untuk mencegah api membesar pada tahap awal.
"Yang kami siapkan alkon, drum, sama selang-selang. Ini semuanya dilakukan secara mandiri," ujarnya.
Anwar mengungkapkan biaya yang dibutuhkan untuk membuat satu unit alat pemadam sederhana tersebut mencapai sekitar Rp5 juta dan seluruhnya berasal dari dana pribadi.
"Kalau dihitung-hitung modalnya kurang lebih Rp5 jutaan. Itu secara pribadi, mandiri," ungkapnya.
Keberadaan alat tersebut bahkan sudah pernah digunakan saat muncul titik api di sekitar kawasan perumahan. Berkat penanganan cepat warga, kobaran api berhasil dikendalikan sehingga tidak sempat meluas sebelum akhirnya petugas datang mengambil alih proses pemadaman.
Selain menyiapkan peralatan, warga juga meningkatkan kewaspadaan dengan rutin memantau kondisi lahan di sekitar permukiman, terutama saat cuaca panas dan angin kencang yang berpotensi mempercepat penyebaran api.
Menurut Anwar, langkah swadaya ini bukan untuk menggantikan tugas petugas pemadam kebakaran, melainkan sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam mempercepat penanganan awal agar kebakaran tidak semakin meluas.
"Harapannya alat ini bisa membantu pemadaman sambil menunggu petugas datang ke lokasi," tandasnya. (DEWI PATMALASARI/J)









