BORNEONEWS, Sampit – Perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia mulai membawa berkah bagi pedagang musiman di Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Salah satunya Jumyati yang menjajakan bendera merah putih dan berbagai atribut kemerdekaan dengan omzet mencapai Rp1,5 juta dalam sehari.
Jumyati membuka lapak dagangannya di Jalan MT Haryono, Sampit, sejak 1 Agustus 2026. Beragam perlengkapan untuk menyambut peringatan Kemerdekaan RI ditawarkan kepada masyarakat.
"Dalam satu hari kadang dapat Rp1 juta, kadang Rp1,5 juta, kadang enggak dapat. Naik turun, tergantung pembeli," kata Jumyati, Senin, 10 Agustus 2026.
Lapak sederhana tersebut dipenuhi berbagai atribut bernuansa merah putih. Mulai dari bendera Merah Putih, umbul-umbul, Garuda Pancasila hingga berbagai tulisan bertema kemerdekaan.
Menurut Jumyati, bendera merah putih dan atribut bergambar Garuda Pancasila menjadi barang yang paling banyak diminati. Pembelinya pun beragam, mulai dari warga yang ingin menghias rumah hingga pihak perkantoran.
Harga yang ditawarkan disesuaikan dengan jenis dan ukuran barang. Bendera merah putih misalnya, dibanderol mulai Rp25 ribu dan masih dapat ditawar hingga sekitar Rp20 ribu. Sementara itu, umbul-umbul berukuran besar dijual dengan harga hingga Rp250 ribu.
Meski mampu meraih omzet jutaan rupiah, Jumyati mengatakan pendapatan dari berjualan atribut kemerdekaan tidak selalu stabil. Dalam satu hari dagangannya bisa menghasilkan Rp1 juta hingga Rp1,5 juta, tetapi pada hari tertentu tidak ada pemasukan sama sekali.
"Naik turun. Tergantung pembeli," ujarnya.
Jumyati menyebut pola pembelian masyarakat juga cenderung berubah mendekati puncak perayaan HUT RI. Berdasarkan pengalamannya, lapak biasanya mulai ramai sejak awal Agustus, terutama pada 1 hingga sekitar 7 atau 10 Agustus.
Namun, memasuki pertengahan Agustus, jumlah pembeli biasanya mulai berkurang. Kondisi tersebut membuat pedagang harus berharap adanya peningkatan permintaan menjelang perayaan 17 Agustus.
Dibandingkan tahun lalu, ia menilai penjualan tahun ini belum terlalu menggembirakan. Menurutnya, kondisi ekonomi masyarakat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kemampuan warga membeli atribut kemerdekaan.
"Kalau dibandingkan tahun kemarin, lebih baik tahun kemarin," ungkapnya.
Meski demikian, Jumyati tetap berharap masyarakat kembali ramai membeli bendera dan atribut kemerdekaan menjelang puncak peringatan HUT ke-81 RI. Bagi pedagang musiman seperti dirinya, momentum Agustus menjadi kesempatan untuk menambah penghasilan.
Di sisi lain, antusiasme masyarakat untuk memasang bendera merah putih masih terlihat. Salah seorang pembeli, Dewi Dues Ahad, mengaku sengaja membeli bendera dan spanduk untuk dipasang di rumahnya.
Menurutnya, memasang bendera bukan sekadar mengikuti imbauan menjelang 17 Agustus, tetapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan yang telah merebut kemerdekaan Indonesia.
"Karena rasa terpanggil. Indonesia sudah merdeka. Orang dulu pertumpahan darah, kita sekarang hanya memasang bendera atau membuat ucapan kepada pejuang-pejuang kita," tuturnya.
Ia menilai pemasangan bendera merah putih merupakan cara sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk ikut memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus mengenang jasa para pejuang. (DEWI PATMALASARI/H)









