SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Kabut asap karhutla yang menyelimuti Sungai Mentaya, Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), membuat pengemudi kelotok harus meningkatkan kewaspadaan. Jarak pandang yang terbatas pada pagi hingga menjelang siang menyulitkan pengemudi membaca kondisi alur sungai.

Kondisi tersebut dirasakan hampir setiap hari ketika kabut asap cukup pekat menutup Sungai Mentaya. Pengemudi tidak bisa sembarangan menentukan jalur pelayaran karena pandangan ke sisi kiri dan kanan sungai menjadi terbatas.

Amat, salah seorang pengemudi kelotok di Sungai Mentaya, mengatakan kondisi kabut asap tahun ini cukup mengganggu aktivitas transportasi air.

Menurutnya, pengemudi harus terlebih dahulu memastikan kondisi alur sungai sebelum menjalankan kelotok. Langkah tersebut dilakukan untuk menghindari risiko ketika jarak pandang sedang buruk.

"Kalau mau jalan harus lihat alur dulu. Kalau alur turun, jangan coba-coba menyusur air. Kita menyusur ke sana dulu ke hulu, baru kita tembak ke situ. Susah kita mau lihat," kata Amat, Senin, 10 Agustus 2026.

Keterbatasan jarak pandang membuat pengemudi harus lebih fokus menjaga arah kelotok. Kondisi semakin berisiko ketika harus berpapasan atau berbagi alur dengan kapal berukuran besar maupun tongkang.

"Kita mau lihat kiri kanan enggak bisa, harus lurus saja kita. Harus waspada kalau ada tongkang lewat, kita harus hati-hati," ujarnya.

Amat mengatakan pengemudi kelotok kini harus mengubah cara berlayar ketika kabut asap turun. Kecepatan dan arah perjalanan harus disesuaikan dengan kondisi yang terlihat di depan.

"Kita terganggu dengan asapnya. Tahun ini kita harus waspada mau menyeberang. Kalau mau jalan harus lihat alur dulu," katanya.

Meski kondisi jarak pandang terganggu, aktivitas penyeberangan di Sungai Mentaya tetap berlangsung. Sejumlah warga masih mengandalkan kelotok untuk berpindah dari wilayah Kecamatan Seranau menuju Sampit dan sebaliknya.

Aktivitas biasanya cukup ramai pada pagi hari. Warga dari kawasan seberang Sungai Mentaya menggunakan jasa penyeberangan untuk bekerja, bersekolah, berbelanja maupun menjalankan keperluan lainnya di Kota Sampit.

Kondisi kabut asap membuat aktivitas tersebut harus dilakukan dengan kewaspadaan lebih tinggi. Pengemudi maupun penumpang harus menghadapi kondisi sungai yang tidak mudah terlihat secara jelas.

Selain persoalan keselamatan pelayaran, kabut asap juga membawa persoalan lain bagi masyarakat yang beraktivitas di sekitar Sungai Mentaya. Asap yang cukup pekat turut menurunkan kualitas udara dan berpotensi mengganggu kesehatan. (DEWI PATMALASARI/H)