KUALA KAPUAS –

BORNEONEWS, Kuala Kapuas - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas memetakan sebaran titik panas (hotspot) sebagai langkah antisipasi lonjakan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah setempat.

Hingga Juli 2026, tercatat sebanyak 1.065 titik panas yang terdeteksi tersebar di berbagai kawasan Kabupaten Kapuas.

Selain ribuan titik panas yang terpantau satelit, data BPBD Kabupaten Kapuas juga mencatat total luas lahan yang terbakar sepanjang periode Januari hingga Juni 2026 telah mencapai 305,51 hektare.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandiangan, memaparkan data tersebut di sela kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Ke-2 Penyusunan Rencana Kontinjensi Karhutla Kabupaten Kapuas Tahun 2026 di Fovere Hotel Kuala Kapuas, Senin, 10 Agustus 2026.

Pangeran menjelaskan, melonjaknya angka hotspot dan area terbakar menjadi landasan penting bagi Pemkab Kapuas untuk menyempurnakan Rencana Kontinjensi Karhutla.

Dokumen ini disiapkan agar seluruh pihak memiliki acuan operasional yang terukur saat menghadapi ancaman musim kemarau.

"Fokus pada FGD kedua ini adalah melakukan validasi data peta kerawanan, memperjelas pembagian tugas dan mekanisme sistem komando, serta mengoptimalkan peran aktif Masyarakat Peduli Api (MPA) di tingkat desa," ujar Pangeran.

Upaya mitigasi ini juga sejalan dengan arahan Bupati Kapuas yang disampaikan melalui Asisten III Setda Kapuas, Perry Noah.

Kabupaten Kapuas memiliki kawasan hutan dan lahan gambut seluas lebih dari 1,4 juta hektare, kesiapsiagaan tinggi sangat dibutuhkan, terlebih BMKG memprakirakan musim kemarau tahun ini berpotensi terjadi lebih panjang dan kering.

Dengan adanya pemetaan data hotspot dan penyusunan strategi yang matang, Pemkab Kapuas berharap seluruh unsur Forkopimda, OPD, hingga relawan di tingkat desa dapat mengedepankan langkah pencegahan dan deteksi dini guna mewujudkan wilayah Kapuas yang bebas dari ancaman bencana asap. (SABRIANOOR/R)