SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit - Kemarau yang berlangsung cukup panjang di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah, menjadi perhatian masyarakat. 

Kondisi kering yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir juga meningkatkan kewaspadaan terhadap kejadian kebakaran lahan dan munculnya kabut asap.

Di tengah kondisi tersebut, Pimpinan Pondok Pesantren Darul Amin Sampit Ustadz Ahmad Rayyan Zuhdi Abrar, mengajak masyarakat tidak hanya melihat kemarau dari sisi kondisi alam, tetapi juga menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan introspeksi diri.

Menurut Ahmad Rayyan, kemarau panjang semestinya menjadi bahan renungan bagi setiap orang untuk melihat kembali hubungan dirinya dengan Allah. 

“Apakah kita selama ini sudah lalai kepada Allah? Apakah ini merupakan ulah kita sendiri yang tidak menjalankan perintah Allah,” ujar Ahmad Rayyan.

Ia mengajak masyarakat memperbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah atas berbagai kesalahan dan maksiat yang selama ini dilakukan.

Menurutnya, manusia harus tetap memiliki harapan kepada Allah dalam menghadapi kondisi sulit. Istigfar dan permohonan ampun merupakan bagian dari ikhtiar seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus memohon pertolongan dan keberkahan.

Kemarau panjang di Kotim juga tidak terlepas dari persoalan kebakaran lahan. Kondisi lahan yang kering membuat masyarakat harus semakin waspada terhadap potensi muncul dan meluasnya kebakaran.

Namun, Ahmad Rayyan mengingatkan agar situasi tersebut tidak membuat masyarakat terjebak dalam sikap saling menyalahkan.

Ia meminta masyarakat tetap memiliki prasangka baik kepada Allah dan sesama manusia.

“Dalam kejadian seperti ini, diharapkan manusia memiliki sifat prasangka baik dengan Allah dan hamba-hamba Allah,” katanya.

Menurutnya, termasuk dalam persoalan pembakaran lahan yang dapat menimbulkan kabut asap, masyarakat tidak seharusnya hanya berhenti pada upaya mencari kesalahan pihak tertentu.

“Jangan saling menyalahkan kepada siapapun, baik itu pembakar lahan hingga menimbulkan kabut asap. Namun kita juga harus introspeksi diri apa yang kita lakukan selama ini,” ujarnya.

Ahmad Rayyan juga menilai menghadapi kemarau tidak cukup hanya dengan mengandalkan upaya pemadaman kebakaran.

Pemadaman tetap menjadi bagian penting ketika kebakaran terjadi. Namun, dalam perspektif keagamaan, manusia juga perlu melakukan ikhtiar dengan mendekatkan diri kepada Allah.

Salah satunya melalui salat sunah meminta hujan atau salat istisqa.

“Jangan hanya berharap dengan pemadaman kebakaran saja. Namun kita juga harus bergantung kepada Allah dengan cara menjalankan salat sunnah minta hujan,” katanya.

Bagi Ahmad Rayyan, kemarau panjang yang terjadi di Kotim dapat menjadi momentum untuk memperkuat dua sisi ikhtiar sekaligus. Masyarakat tetap harus melakukan tindakan nyata untuk menjaga lingkungan dan mencegah kebakaran, tetapi pada saat yang sama tidak melupakan doa dan ibadah.

Ia juga menyebutkan bahwa kemarau panjang pada akhirnya tidak hanya menghadirkan persoalan mengenai kekeringan dan potensi kebakaran lahan. Kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran masyarakat.

Masyarakat perlu menjaga lingkungan, menghindari tindakan yang dapat memicu kebakaran, serta tidak saling menyalahkan ketika persoalan muncul.

Di sisi lain, masyarakat juga diajak memperbanyak istigfar, berdoa, dan memperkuat ibadah sebagai bentuk ikhtiar spiritual.

Pesan Ahmad Rayyan tersebut menempatkan kemarau bukan semata-mata sebagai persoalan kapan hujan akan turun, melainkan sebagai kesempatan untuk melakukan refleksi.

Ketika hujan belum kunjung datang, manusia tetap dituntut untuk berikhtiar. Menjaga alam, mencegah kebakaran, memperbaiki hubungan dengan sesama, sekaligus mendekatkan diri kepada Allah. (DEWI PATMALASARI/y)