SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah mengantisipasi meningkatnya potensi konflik antara manusia dan satwa liar akibat kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Kabupaten Kotawaringin Timur.

Komandan BKSDA Resort Sampit Muriansyah mengatakan, kebakaran dan asap dapat mendorong satwa liar keluar dari habitatnya menuju kebun, ladang maupun kawasan yang lebih dekat dengan permukiman.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menangkap, melukai maupun membunuh satwa liar yang ditemukan masuk ke area aktivitas warga.

"Masyarakat juga diminta tidak menangkap, melukai atau membunuh satwa liar yang masuk ke kebun maupun ladang. Kalau bertemu satwa liar, jangan berusaha menangkap atau membunuhnya. Segera laporkan kepada petugas BKSDA agar bisa ditangani dengan aman," kata Muriansyah di Sampit, Selasa, 11 Agustus 2026.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan karena berpotensi memperluas karhutla sekaligus mengganggu habitat satwa.

Menurutnya, satwa seperti kukang, bekantan maupun ular yang tidak menunjukkan perilaku mengganggu sebaiknya dibiarkan dan tidak diprovokasi.

Kemunculan satwa di sekitar kebun atau permukiman dapat terjadi karena mereka sedang mencari lokasi yang lebih aman dari kebakaran dan kepulan asap.

BKSDA juga meminta masyarakat segera melapor apabila menemukan orangutan maupun satwa dilindungi lainnya di perkebunan, ladang atau kawasan permukiman.

Muriansyah menjelaskan, ketika kebakaran terjadi, satwa secara alami akan bergerak menjauh dari sumber api.

Kebun dan ladang warga dapat menjadi pilihan sementara karena relatif lebih aman, memiliki sumber air serta masih menyediakan sumber pakan.

Di kawasan perkebunan, satwa dapat memanfaatkan parit maupun sumur di sekitar pondok sebagai sumber air. Sementara sumber makanan dapat berupa umbut kelapa sawit, nanas dan tanaman lainnya.

Kondisi tersebut dapat memicu konflik ketika keberadaan satwa mulai menimbulkan kerugian terhadap tanaman maupun ternak masyarakat.

Orangutan, misalnya, dapat memakan umbut sawit atau nanas. Sementara beruang berpotensi masuk ke kebun untuk mencari makanan maupun memangsa ternak seperti ayam dan itik.

“Laporan cepat diperlukan agar petugas dapat melakukan pemantauan dan mengambil langkah penanganan sebelum terjadi konflik antara satwa dan manusia,” jelas Muriansyah.

BKSDA Resort Sampit sebelumnya menerima informasi mengenai kemunculan orangutan di kawasan Jalan Jenderal Sudirman Km 15 Sampit.

Petugas kemudian melakukan observasi pada Senin, 10 Agustus 2026, sekitar pukul 09.00 hingga 11.30 WIB.

BKSDA menduga kemunculan orangutan tersebut berkaitan dengan karhutla yang terjadi di sekitar kawasan tersebut.

“Di sekitar lokasi banyak terlihat asap kebakaran. Dugaan kuat kami, orangutan itu menghindari kebakaran dan asap kemudian masuk ke kebun atau ladang warga yang relatif lebih aman,” terangnya.

Kejadian serupa sebelumnya juga dilaporkan di Desa Bapanggang Raya, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang, sekitar sepekan lalu.

Wilayah tersebut diketahui mengalami kebakaran sehingga orangutan diduga bergerak keluar dari habitatnya menuju kawasan perkebunan warga.

Namun, berdasarkan pemantauan lanjutan, petugas belum kembali menemukan keberadaan orangutan tersebut.

BKSDA berharap masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim karhutla serta segera berkoordinasi dengan petugas apabila menemukan satwa liar agar penanganan dapat dilakukan tanpa membahayakan manusia maupun satwa.