BORNEONEWS, Ankara – Pemerintah Turki menegaskan tidak akan mengizinkan kapal perang melintasi Selat Bosphorus dan Dardanella di tengah laporan adanya tekanan dari sejumlah negara NATO agar akses kapal militer menuju Laut Hitam diperluas.
Seorang sumber di Pemerintah Turki mengatakan Ankara tetap berpegang pada ketentuan Konvensi Montreux yang mengatur pelayaran kapal melalui dua selat strategis tersebut.
"Kapal perang tidak diizinkan melintasi selat-selat Turki. Ankara secara cermat memantau kepatuhan terhadap Konvensi Montreux dan tidak memperbolehkan adanya upaya untuk menghindarinya," kata sumber tersebut kepada RIA Novosti, Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut sumber itu, Turki akan terus menjalankan kewajiban internasional yang mengatur pelintasan kapal militer melalui wilayah perairannya.
Pernyataan tersebut muncul setelah media Turkiye pada awal Agustus melaporkan adanya tekanan dari sejumlah negara anggota Organisasi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Tekanan tersebut disebut berkaitan dengan upaya membuka akses yang lebih luas bagi kapal perang untuk melewati Bosphorus dan Dardanella menuju Laut Hitam.
Isu akses kapal militer kembali mendapat perhatian seiring berlanjutnya konflik Ukraina serta meningkatnya risiko keamanan pelayaran di kawasan Laut Hitam.
Turki selama ini menggunakan Konvensi Montreux sebagai dasar untuk mengatur pergerakan kapal perang melalui dua selat tersebut.
Konvensi Montreux merupakan perjanjian internasional yang disepakati pada 1936 dan memberikan Turki kewenangan mengatur lalu lintas kapal dagang serta kapal perang melalui Bosphorus dan Dardanella.
Kedua selat itu mempunyai posisi strategis karena menjadi penghubung antara Laut Hitam dan Laut Mediterania.
Selat Bosphorus berada di bagian utara dan menghubungkan Laut Hitam dengan Laut Marmara sekaligus membelah wilayah Istanbul.
Sementara Selat Dardanella berada di bagian selatan dan menghubungkan Laut Marmara dengan Laut Aegea yang selanjutnya menuju Laut Mediterania.
Kapal yang berlayar dari Laut Hitam menuju Mediterania harus melewati Bosphorus, Laut Marmara, kemudian Dardanella.
Posisi tersebut menjadikan kedua selat sebagai jalur penting bagi perdagangan internasional maupun pergerakan militer negara-negara di sekitar Laut Hitam.
Turki menegaskan akan tetap menerapkan ketentuan Konvensi Montreux dan mengawasi setiap upaya pelintasan kapal militer melalui kawasan tersebut.
Sumber: Sputnik/RIA Novosti/ANTARA









