SAMPIT –

BORNEONEWS, Sampit – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kotawaringin Timur mengubah strategi pemadaman kebakaran hutan dan lahan atau karhutla dengan memaksimalkan operasi pada waktu subuh.

Kepala Pelaksana BPBD Kotim Multazam mengatakan, waktu subuh dipilih karena kecepatan angin cenderung lebih rendah sehingga proses pemadaman dinilai dapat dilakukan lebih optimal.

“Secara taktis waktu kami akan atur, kami akan melakukan pemadaman subuh. Karena waktu itu kecepatan angin rendah, sehingga kami bisa melakukan pemadaman secara total,” kata Multazam di Sampit, Selasa, 11 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, perubahan pola operasi tersebut merupakan bagian dari hasil analisis dan evaluasi setelah Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur menetapkan status tanggap darurat karhutla.

Evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas penanganan sebelumnya sekaligus menyesuaikan strategi dengan perkembangan kebakaran yang mulai mendekati kawasan permukiman.

Selain luasan kebakaran, dampak asap terhadap kesehatan masyarakat turut menjadi perhatian.

Karena itu, BPBD berupaya mengoptimalkan kinerja satuan tugas darat dengan menyesuaikan waktu pemadaman agar titik api aktif dapat segera diputus.

“Jadi upaya-upaya maksimal dari tim satgas darat selama ini sebenarnya sudah cukup bagus, hanya saja tactical waktu yang akan kita atur. Kita berharap fire active (kebakaran aktif) bisa cepat kita putus," ujarnya.

Berdasarkan data BPBD Kotim hingga 9 Agustus 2026, tercatat 218 kejadian karhutla yang menghanguskan lahan seluas lebih dari 385 hektare di sejumlah kecamatan.

Selain itu, akumulasi titik panas sejak Januari 2026 hingga saat ini mencapai 1.531 titik yang tersebar di seluruh kecamatan di Kotawaringin Timur.

Multazam mengatakan, penanganan karhutla semakin kompleks karena sejumlah titik kebakaran telah mendekati kawasan permukiman.

Beberapa lokasi yang menjadi perhatian antara lain Jalan Pandawa, Jalan Bumi Raya, Jalan Walter Hugo dan kawasan Km 7–8 Jalan Tjilik Riwut.

Kebakaran juga terjadi di sekitar kebun masyarakat, termasuk lahan yang baru ditanami sekitar dua tahun terakhir.

Menurut Multazam, sebagian kejadian diduga berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan menggunakan api yang kemudian tidak terkendali akibat tiupan angin.

“Mereka ingin membuka kebun dengan cara membakar, tetapi mereka lupa bahwa kecepatan angin dampaknya sangat luar biasa,” ujarnya.

Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla tidak hanya difokuskan pada pemadaman, tetapi juga mencegah api merambat ke permukiman, kebun dan kawasan lain yang memiliki aktivitas masyarakat.

BPBD Kotim juga mulai mengatur ritme kerja personel yang telah bertugas dalam durasi panjang.

Sebagian petugas disebut bekerja lebih dari 12 jam sehari, bahkan ada yang mencapai 16 hingga 18 jam.

“Perjalanan kita masih panjang. Kita baru sekitar dua per lima atau satu per enam, sementara ancaman masih terjadi sekitar lima bulan ke depan,” katanya.

Saat ini, sekitar 150 personel bertugas setiap hari dengan dukungan relawan, termasuk dari Palang Merah Indonesia.

Multazam mengakui tanda-tanda kelelahan mulai terlihat di kalangan petugas. Sejumlah personel telah meminta izin tidak bertugas karena kondisi fisik menurun.

“Saya yakin dalam hitungan tujuh hari ke depan pasti ada yang tumbang. Sudah banyak yang izin karena kelelahan, ada juga yang sakit, tetapi yang paling banyak karena kelelahan,” katanya.

Untuk menjaga kondisi personel, BPBD berupaya memastikan kebutuhan makanan dan minuman tetap terpenuhi selama operasi berlangsung.

Dukungan dari relawan juga terus diberikan berupa makanan dan minuman bergizi bagi petugas yang bekerja di lapangan.