BORNEONEWS, Jakarta – Kalimantan Tengah menjadi salah satu wilayah rawan yang masuk perhatian pemerintah dalam upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan atau karhutla, termasuk melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago mengatakan, OMC menjadi salah satu strategi yang disiapkan pemerintah untuk membantu pemadaman kebakaran pada lahan yang luas.
Namun, pelaksanaan operasi tersebut sangat bergantung pada ketersediaan awan yang memenuhi syarat untuk memicu hujan.
"Tetapi ada satu persyaratan yang harus kita hadapi, yaitu kita harus menemukan awan hujan. Selama awan hujan itu tidak bisa kita temukan, kita tidak akan bisa membuat hujan buatan," kata Djamari sebagaimana dikutip pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurutnya, hingga saat ini kondisi awan di sejumlah kawasan karhutla belum memungkinkan untuk pelaksanaan OMC.
Meski demikian, pemerintah terus memantau perkembangan cuaca dan memperkirakan adanya peluang kemunculan awan hujan dalam beberapa hari hingga 18 Agustus 2026.
"Berdasarkan perkiraan sekarang ini pada minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada tiga atau empat hari kemungkinan awan hujan ada," ujarnya.
Apabila kondisi atmosfer memenuhi persyaratan, pemerintah akan segera menjalankan operasi modifikasi cuaca di kawasan yang membutuhkan penanganan.
Dalam pelaksanaan OMC, pesawat digunakan untuk menyemai bahan tertentu ke dalam awan yang memenuhi syarat guna meningkatkan peluang terjadinya hujan.
Pemerintah saat ini menangani karhutla dengan total luas lahan terbakar yang disebut mencapai sekitar 107 ribu hektare di berbagai wilayah Indonesia.
Djamari mengatakan, kondisi kekeringan dan fenomena El Niño turut meningkatkan risiko kebakaran.
"Kita menghadapi El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September atau awal Oktober yang akan datang," ungkapnya.
Pemerintah menetapkan enam provinsi sebagai wilayah yang mendapat perhatian khusus dalam penanganan karhutla.
Enam daerah tersebut adalah Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Riau.
Selain menyiapkan OMC, pemerintah juga mengerahkan puluhan armada udara untuk membantu proses pemadaman.
"Kita mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed-wing juga bisa antara 10 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan," kata Djamari.
Penanganan dari darat juga terus dilakukan dengan dukungan personel serta penggunaan tangki fleksibel sebagai tempat penampungan air sementara.
Air tersebut kemudian dapat digunakan untuk mendukung operasi pemadaman di kawasan yang sulit mendapatkan sumber air.
Djamari mengatakan koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait juga terus diperkuat agar setiap titik kebakaran dapat ditangani secara cepat.
Pemerintah berharap kombinasi operasi darat, udara dan modifikasi cuaca dapat mempercepat pengendalian karhutla, termasuk di Kalimantan Tengah yang menjadi salah satu provinsi prioritas.
ANTARA









