PALANGKA RAYA –

BORNEONEWS, Palangka Raya - Pergerakan harga crude palm oil atau CPO sepanjang semester pertama 2026 menunjukkan dinamika yang cukup beragam. Harga komoditas tersebut sempat mengalami kenaikan sebelum kemudian mengalami tekanan akibat kebijakan pemerintah terkait penjualan CPO.

Sekretaris Eksekutif GAPKI Cabang Kalimantan Tengah, Rawing Rambang, mengatakan sepanjang Januari hingga akhir Mei 2026 harga CPO tercatat mengalami peningkatan sekitar 5,71 persen.

“Selama semester pertama, dari Januari sampai akhir Mei 2026, harga CPO cenderung meningkat sebesar 5,71 persen,” kata Rawing kepada Borneonews pada Rabu, 12 Agustus 2026.

Namun, memasuki periode berikutnya harga CPO mengalami penurunan. Menurut Rawing, kondisi tersebut tidak terlepas dari kebijakan pemerintah yang mengatur penjualan CPO.

Meski demikian, perkembangan terbaru menunjukkan harga CPO kembali mengalami penguatan. Rawing mencatat harga CPO saat ini kembali meningkat sekitar 3,78 persen.

Fluktuasi harga CPO tersebut menjadi salah satu dinamika yang dihadapi industri kelapa sawit, termasuk perusahaan dan pekebun di Kalimantan Tengah.

Rawing mengatakan industri sawit tetap memiliki prospek penting bagi perekonomian daerah mengingat luas perkebunan sawit Kalteng mencapai sekitar 1,58 juta hektare.

Selain memberikan kontribusi ekonomi, sektor tersebut juga menjadi sumber lapangan kerja bagi 218.715 orang di Kalteng.

Karena itu, perkembangan harga CPO menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menjaga keberlanjutan industri sawit sekaligus memastikan manfaat ekonomi sektor perkebunan tetap dirasakan masyarakat. (TESTI PRISCILLA/H)